PREFERENDUM IKAN
Setiap makhluk hidup terdedah pada berbagai faktor lingkungan abiotik
yang selalu dinamis atau berubah-ubah baik dalam skala ruang (bervariasi di
setiap tempat) maupun skala waktu (berfluktuasi). Oleh karena itu setiap
makhluk hidup harus mampu mengadaptasikan dirinya untuk menghadapi kondisi
faktor lingkungan abiotik tersebut. Namun demikian makhluk hidup, khususnya
dalam hal ini hewan, tidak mungkin hidup pada kisaran faktor abiotik yang
seluas-luasnya. Pada prinsipnya, bahwa masing-masing hewan memiliki kisaran
toleransi tertentu terhadap semua faktor lingkungan. Prinsip yang sama
dinyatakan sebagai Hukum Toleransi Shelford: “bahwa setiap organisme mempunyai
suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas
dari kisaran toleransi organism itu terhadap kondisi faktor lingkungannya”.
Kisaran toleransi ditentukan secara herediter, namun demikian dapat mengalami perubahan oleh terjadinya
proses aklimatisasi (di alam) atau aklimasi (di laboratorium). Aklimatisasi adalah usaha dilakukan
manusia untuk meyesuaikan hewan terhadap kondisi faktor lingkungan di habitat
buatan yang baru. Aklimasi adalah
usaha yang dilakukan manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap kondisi satu
faktor lingkungan tertentu dalam laboratorium.
Untuk
mengetahui salah satu teknik penentuan kisaran toleransi atau efek membatasi
faktor lingkungan terhadap kehidupan makhluk hidup dan juga pada kisaran suhu
berapa yang paling disukai oleh individu-individu tersebut, maka perlu
dilakukan pengamatan preferendum.
2.1 Definisi Suhu
Menurut
Sverdrup et al., (1942) dikutip oleh
Inrawatit,(2000) suhu merupakan parameter yang penting dalam lingkungan laut
dan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan di laut.
Pengaruh suhu secara langsung terhadap kehidupan di laut adalah dalam hal laju
fotosintesa tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi hewan, khususnya aktivitas
metabolisme dan siklus reproduksi. Secara tidak langsung suhu berpengaruh
terhadap daya larut oksigen yang digunakan untuk respirasi biota laut. Daya
larut oksigen berkurang, jika suhu naik, dan sebaliknya kandungan kabondioksida
bertambah.
Sedangkan
menurut Nybakken (1988), sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu
tubuh dipengaruhilingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang
sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Sesuai
apa yg dikatakan Nybakken pada tahun 1988 bahwa Sebagian besar organisme laut
bersifat poikilotermik (suhu tubuh sangat dipengaruhi suhu massa air
sekitarnya), oleh karenanya pola penyebaran organisme laut sangat mengikuti
perbedaan suhu laut secara geografik. Berdasarkan penyebaran suhu permukaan
laut dan penyebaran organisme secara keseluruhan maka dapat dibedakan menjadi 4
zona biogeografik utama yaitu:
kutub,tropic,beriklim sedang panas,beriklim sedang dingin.
Dapat
disimpulkan bahwa suhu merupakan parameter kualitas air yang sangat menentukan
kelangsungan hidup biota di dalamnya. Baik itu dalam proses pertumbuhannya maupun
dalam proses reproduksi unutk memperbesar jumlah populasi. Maka dari itu
apabila seorang pengusaha budidaya akan membuat suatu tambak, salah satu aspek
yang penting untuk dilakukan adalah mengontrol besarnya suhu pada tambak yang
akan dibuat untuk bisnis perikanan budidaya agar sesuai dengan toleransi suhu
biota air yang akan dibudidayakan.
2.2
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Suhu
Faktor yang mempengaruhi suhu di
perairan adalah:
Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya suhu
udara suatu daerah adalah:
1. Lama penyinaran matahari.
2. Sudut datang sinar matahari.
3. Relief permukaan bumi.
4. Banyak sedikitnya awan.
5. Perbedaan letak lintang.
Suhu udara yang diukur dengan
thermometer merupakan unsure iklim yang sangat penting. Suhu adalah unsure
iklim yang sulit didefinisikan. Bahkan para ahli meteorologipun mempertanyakan
apa yang dimaksud dengan suhu udara karena unsure iklim ini berubah sesuai
dengan tempat. Tempat yang terbuka suhunya akan berbeda dengan tempat yang
bergedung, demikian pula suhu di ladang berumput berbeda dengan ladang yang
dibajak, atau jalan yang beraspal dan sebagainya. Pengukuran suhu udara hanya
memperoleh satu nilai yang menyatakan nilai rata-rata suhu atmosfer. Secara
fisis suhu dapat didefinisikan sebagai tingkat gerakan molekul benda, makin
cepat gerakan molekul, makin tinggi suhunya. Suhu dapat juga didefinisikan
sebagai tingkat panas suatu benda. Panas bergerak dari sebuah benda yang
mempunyai suhu tinggi ke benda dengan suhu rendah.
Matahari merupakan sumber panas.
Pemanasan udara dapat terjadi melalui dua proses pemanasan, yaitu pemanasan
langsung dan pemanasan tidak langsung.
a. Pemanasan secara langsung
Pemanasan secara langsung dapat
terjadi melalui beberapa proses sebagai berikut:
1) Proses absorbsi
adalah penyerapan unsur-unsur
radiasi matahari, misalnya sinar gama, sinar-X, dan ultra-violet. Unsur unsur
yang menyerap radiasi matahari tersebut adalah oksigen, nitrogen, ozon,
hidrogen, dan debu.
2) Proses refleksi
Adalah pemanasan matahari terhadap
udara tetapi dipantulkan kembali ke angkasa oleh butir-butir air (H2O), awan,
dan partikel-partikel lain di atmosfer.
3) Proses difusi
Sinar matahari mengalami difusi
berupa sinar gelombang pendek biru dan lembayung berhamburan ke segala arah.
Proses ini menyebabkan langit berwarna biru.
b. Pemanasan tidak langsung
Pemanasan tidak langsung dapat
terjadi dengan cara-cara berikut:
1)
Konduksi adalah pemberian panas oleh matahari pada lapisan udara bagian bawah
kemudian lapisan udara tersebut memberikan panas pada lapisan udara di atasnya.
2) Konveksi adalah pemberian panas
oleh gerak udara vertikal ke atas.
3) Adveksi adalah pemberian panas
oleh gerak udara yang horizontal (mendatar).
4)
Turbulensi adalah pemberian panas oleh gerak udara yang tidak teratur dan
berputar-putar ke atas tetapi ada sebagian panas yang dipantulkan kembali ke
atmosfer.
Berdasarkan adanya perbedaan suhu
yang terdapat pada setiap kedalaman air, Effendi (2003) membedakan suatu
perairan danau secara vertikal menjadi
3 (tiga) stratifikasi, yaitu :
1. Epilimnion merupakan lapisan bagian atas dari
perairan danau. Lapisan ini
merupakan bagian yang hangat dari kolom air dengan keadaan suhu yang
relatif konstan (perubahan suhu secara vertikal sangat kecil). Seluruh massa
air pada lapisan ini dapat bercampur dengan baik akibat dari pengaruh angin dan
gelombang.
2. Metalimnion atau yang sering disebut termoklin.
Lapisan ini berada disebelah bawah lapisan epilimnion. Pada lapisan ini perubahan suhu secara vertikal relatif besar,
dimana setiap penambahan kedalaman 1 meter, terjadi penurunan suhu air sekitar
10C.
3. Hipolimnion adalah lapisan paling dalam dari
perairan danau, yang terletak di sebelah bawah lapisan termoklin. Lapisan ini
mempunyai suhu yang lebih dingin dan perbedaan suhu vertikal relatif kecil,
massa airnya stagnan, tidak mengalami percampuran dan memiliki kekentalan air
(densitas) lebih besar.

gambar. Google image
Suatu perairan danau dapat juga
dibedakan berdasarkan kedalaman penetrasi cahaya matahari kedalam badan air
menjadi beberapa zona. Dalam hal ini, Odum (1996) membedakan suatu perairan
danau menjadi 3 (tiga) zona, yaitu :
1. Zona
litoral adalah daerah perairan dangkal pada danau, dimana penetrasi cahaya
dapat mencapai hingga ke dasar perairan. Organisme utama yang hidup pada zona
ini terdiri dari produser yang meliputi tanaman berakar (anggota spermatophyta)
dan tanaman yang tidak berakar (fitoplankton, ganggang), sedangkan konsumernya
meliputi beberapa larva serangga air, rotifera, moluska, ikan, penyu,
zooplankton dan lain sebagainya.
2. Zona
limnetik adalah daerah perairan terbuka sampai pada kedalaman penetrasi cahaya
yang efektif, sehingga daerah ini efektif untuk proses fotosintesis. Organisme
utama yang hidup pada zona ini terdiri dari produser yang meliputi fitoplankton
dan tumbuhan air yang terapung-apung bebas, sedangkan organisme konsumernya
meliputi zooplankton dari copepoda, rotifera dan beberapa jenis ikan.
3. Zona
profundal adalah daerah dasar dari perairan danau yang dalam, dimana pada
daerah ini tidak dapat lagi dicapai oleh penetrasi cahaya efektif. Sebagai
organisme utama yang hidup pada zona ini adalah konsumer yang meliputi jenis
cacing darah dan kerang-kerang kecil.



2.3 Pengaruh
Suhu Terhadap Pertumbuhan Ikan
Menurut
Laevastu dan Hela (1970), pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses
metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh,
seperti kecepatan renang, serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh suhu air pada
tingkah laku ikan paling jelas terlihat selama pemijahan. Suhu air laut dapat
mempercepat atau memperlambat mulainya pemijahan pada beberapa jenis ikan. Suhu
air dan arus selama dan setelah pemijahan adalah faktor-faktor yang paling
penting yang menentukan “kekuatan keturunan” dan daya tahan larva pada
spesies-spesies ikan yang paling penting secara komersil. Suhu ekstrim pada
daerah pemijahan (spawning ground) selama musim pemijahan dapat memaksa ikan
untuk memijah di daerah lain daripada di daerah tersebut.
Suhu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan,
mulai dari telur, benih sampai ukuran dewasa. Suhu air akan berpengaruh
terhadap proses penetasan telur dan perkembangan telur. Rentang toleransi serta
suhu optimum tempat pemeliharaan ikan berbeda untuk setiap jenis/spesies ikan,
hingga stadia pertumbuhan yang berbeda. Suhu memberikan dampak sebagai berikut
terhadap ikan :
• Suhu
dapat mempengaruhi aktivitas makan ikan peningkatan suhu
• Peningkatan
aktivitas metabolisme ikan
• Penurunan
gas (oksigen) terlarut
• Efek
pada proses reproduksi ikan
• Suhu
ekstrim bisa menyebabkan kematian ikan.
Faktor
penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan selain pakan
adalah kualitas air terutama suhu. Karena suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan
dan nafsu makan ikan. Suhu dapat mempengaruhi aktivitas penting ikan seperti
pernapasan, pertumbuhan dan reproduksi. Suhu yang tinggi dapat mengurangi
oksigen terlarut dan mempengaruhi selera makan ikan.
Suhu air normal adalah suhu air
yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan metabolisme dan berkembangbiak.
Suhu merupakan faktor fisik yang sangat penting di air, karena bersama-sama
dengan zat/unsur yang terkandung didalamnya akan menentukan massa jenis air,
dan bersama-sama dengan tekanan dapat digunakan untuk menentukan densitas air.
Selanjutnya, densitas air dapat digunakan untuk menentukan kejenuhan air. Suhu
air sangat bergantung pada tempat dimana air tersebut berada. Kenaikan suhu air
di badan air penerima, saluran air, sungai, danau dan lain sebagainya akan
menimbulkan akibat sebagai berikut:
1) Jumlah oksigen terlarut di
dalam air menurun;
2) Kecepatan reaksi kimia
meningkat;
3)
Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu. Jika batas suhu yang mematikan
terlampaui, maka akan menyebabkan ikan dan hewan air lainnya mati.
Suhu dapat mempengaruhi
fotosintesa di laut baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara
langsung yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam
proses fotosintesa. Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa,
sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi
kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton.
Pengaruh suhu secara tidak
langsung dapat menentukan stratifikasi massa air, stratifikasi suhu di suatu
perairan ditentukan oleh keadaan cuaca dan sifat setiap perairan seperti
pergantian pemanasan dan pengadukan, pemasukan atau pengeluaran air, bentuk dan
ukuran suatu perairan. Suhu air yang layak untuk budidaya ikan laut adalah
27–32 oC. Kenaikan suhu perairan juga menurunkan kelarutan oksigen dalam air,
memberikan pengaruh langsung terhadap aktivitas ikan disamping akan menaikkan
daya racun suatu polutan terhadap organisme perairan (Brown dan Gratzek, 1980).
Selanjutnya Kinne (1972)
menyatakan bahwa suhu air berkisar antara 35 – 40 0C merupakan suhu kritis bagi
kehidupan organisme yang dapat menyebabkan kematian. Perbedaan suhu air media
dengan tubuh ikan akan menimbulkan gangguan metabolisme. Kondisi ini dapat
mengakibatkan sebagian besar energy yang tersimpan dalam tubuh ikan digunakan
untuk penyesuian diri terhadap lingkungan yang kurang mendukung tersebut,
sehingga dapat merusak sistem metabolisme atau pertukaran zat. Hal ini dapat
mengganggu pertumbuhan ikan karena gangguan sistem percernaan. Suhu air mempunyai
pengaruh besar terhadap pertukaran zat atau metabolisme mahkluk hidup di
perairan. Oleh karena itu peningkatan suhu lebih tinggi dapat menghambat
pertumbuhan dan menyebabkan tingginya mortalitas ikan (Asmawi, 1983).
Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan
ikan juga dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam
perairan, dan akan mempengaruhi kadar oksigen terlarut dalam air atau yang
biasa disebut dengan disolved oxygen (DO). Temperatur juga sangat mempengaruhi
laju pertumbuhan dari organisma air. Laju pertumbuhan Gammarous fasciatus yang
muda (Crustacea) misalnya, akan berlangsung selama 3 minggu pada temperatur 15o
C, sedangkan pada temperatur 24o C berlangsung hanya dalam 1 minggu saja.
Kenaikan temperatur air dengan demikian akan berakibat pada percepatan masa
perkembangan hewan sampai 3 kali lipat, sesuai dengan hukum VAN’T HOFFS. Selain
itu, temperatur juga mempengaruhi masa hidup dari organisme air. Dari
penelitian, terhadap Daphia magna, terbukti bahwa masa hidup hewan ini
berkurang dari 110 hari pada temperatur 8o C menjadi 40 hari pada temperatur
18o C, bahkan semakin berkurang menjadi 25 hari pada temperatur 25o C.
Selanjutya temperatur air memoengaruhi frenkuensi denyut jantung seperti
dibuktikan pada D. pulex. Pada temperatur 9,5o C frekuensi denyut berkisar
pamenda 170/menit dan meningkat menjadi 250/menit pada temperatur 15,5o C
(Meijering, 1972 dalam Barus, 2002).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar