PENGAMATAN
KOMUNITAS MOLLUSCA
DI
PANTAI PANCUR, TAMAN NASIONAL ALAS PURWO
KECAMATAN
TEGAL DLIMO, KABUPATEN BANYUWANGI
LAPORAN
KULIAH KERJA LAPANGAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Ekologi
Yang Diampu Oleh Bapak Dr. Hadi Suwono, M.Si
dan Ibu Dr. Vivi Novianti, M.Si.
Oleh :
Kelompok 16 / Off. A
Aisyatur
Robia (150341600791)
Bidari
Intan Rucitra (150341602763)
Dwi
Darmayanti (150341601390)
Luthfianti
Fanani (150341603019)
Regia
Ilmahani (150341600415)
Ruri
Indarti (150341600730)
Umar
Hanif (150341603597)
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN
BIOLOGI
April 2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan taufik, hidayah, karunia dan ridho-Nya
kami dapat menyelesaikan laporan Kuliah Kerja Lapangan Ekologi di Taman
Nasional Alas Purwo dengan tepat waktu. Kami sadar sepenuhnya bahwa
terselesainya laporan KKL ini juga tidak lepas dari bantuan pihak pihak lain
yang mendukung.
Kami sampaikan ucapan terimakasih
kepada:
1. Pihak Balai Taman Nasional Alas Purwo yang
telah memberikan izin untuk melakukan kegiatan KKL.
2. Bapak Hadi Suwono dan Ibu Vivi Novianti
selaku dosen pembimbing dan dosen pengampu matakuliah Ekologi.
3. Para Asisten Dosen mata kuliah Ekologi yang
telah membimbing jalannya KKl dan dalam pembuatan laporan.
4. Teman-teman semua yang tidak mungkin disebutkan
namanya satu persatu.
Diharapkan dengan adanya laporan KKL ini dapat mempermudah mahasiswa
dalam mencari informasi tentang jenis
vegetasi yang ada di Alas Purwo dan komunitas Mollusca yang ada di resort
pantai kawasan Alas Purwo. Selain itu dengan adanya laporan ini diharapkan juga
dapat memberikan informasi lebih mengenai vegetasi dan komunitas Mollusca yang
ada di Taman Nasional Alas Purwo bagi pembaca.
Kami sadar sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna,
oleh karena itu sangat diharapkan adanya kritik dan saran yang membangun bagi
laporan ini agar kelak tercipta laporan yang lebih baik lagi.
Malang, 24 April 2017
Penulis,
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taman Nasional Alas Purwo merupakan
kawasan yang digunakan sebagai kawasan pengembangan ilmu pengetahuan,
pelestarian sumber daya alam, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi merupakan salah satu aset Nasional yang
secara resmi terpisah dari kawasan Taman Nasional Baluran sejak tahun
1990. Tempat ini merupakan cagar alam
dan suaka margasatwa yang dapat digunakan sebagai media dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan pelestarian SDA.
Taman Nasional Alas Purwo secara geografis terletak di ujung timur dari
Pulau Jawa, tepatnya berada di Kecamatan Tegaldlimo, Kecamatan Purwoharjo,
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Menurut masyarakat sekitar, nama
alas purwo memiliki arti hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa. Taman
Nasional merupakan perwakilan dari tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di
Pulau Jawa. Ketinggiannya berada pada kisaran 0-322 meter di atas permukaan
laut (dpl) dengan topografi datar, bergelombang ringan, dengan puncak tertinggi
di Gunung Lingga Manis (322 meter dpl). Berdasarkan ekosistemnya, tipe-tipe
hutan di Taman Nasional Alas Purwo dapat dibagi menjadi hutan bambu, hutan
pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang
penggembalaan/savana (feeding ground). Jika diamati dari luas lahan
sekitar 43.420 hektar, taman nasional ini didominasi oleh hutan bambu yang
menempati areal sekitar 40% dari seluruh area yang ada (Vicky, 2010).
Taman Nasional Alas Purwo juga memiliki kekayaan laut yang melimpah. Di
kawasan Alas Purwo terdapat beberapa pantai yang mana keragaman hewan yang
hidup di sana cukup tinggi. Pantai yang dapat ditemui di kawasan Taman Nasional
Alas Purwo ini antara lain Pantai Triangulasi, Pantai Ngagelan, Pantai Pancur,
serta Pantai Plekung. Ekosistem hewan-hewan yang ada pada pantai ini masih
terjaga dan asri, sehingga lokasi ini sering dijadikan sebagai kegiatan
penelitian yang dilakukan oleh berbagai kalangan.
Menurut Dharmawan (2004) ekosistem
lahan basah di Alas Purwo terdiri dari hutan mangrove dan hutan perairan
laguna, yang secara fungsional kedua ekosistem ini saling berinteraksi. Hutan mangrove
pada dasarnya adalah suatu kawasan yang terletak menyebar di sepanjang garis
pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air. Komponen
abiotik dan biotik di hutan mangrove tersebut saling berinteraksi membentuk
suatu mangrove.
Ekosistem mangrove yang identik
dengan ekosistem perairan akan sangat mempengaruhi keanekaragaman jenis-jenis
hewan lautnya. Hutan mangrove pada prinsipnya berfungsi sebagai tempat asuhan (nusery ground) bagi berbagai jenis hewan
akuatik yang beranekaragam, seperti ikan, udang, dan berbagai jenis hewan
mollusca. Hutan mangrove di Indonesia terdapat 88 jenis Crustaceae dan 65 jenis Mollusca (Nontji, 1987).
Daerah pasang surut tidak luput
dari pengaruh komponen-komponen yang ada dalam hutan mangrove. Di daerah pasang
surut ini secara langsung ataupun tidak langsung akan saling berinteraksi
dengan komponen-komponen yang ada dalam hutan mangrove baik berbagai komponen
biotik maupun abiotiknya. Berbagai komponen biotik tersebut akan saling
berinteraksi membentuk suatu populasi. Berbagai komponen biotik dan abiotik di
daerah pasang surut akan membentuk suatu rangkaian proses dekomposisi melalui
suatu rantai makanan yang hasilnya merupakan makanan bagi komponen biotik
laguna, yaitu berbagai jenis Mollusca, decapoda, dan berbagai mikroba.
Rangkaian proses tersebut dapat diketahui dari kepadatan organisme yang terdapat
di tempat tersebut, dan merupakan indikator dalam memprediksi adanya unsur hara
yang terkandung di dalamnya (Odum, 1993).
Mollusca merupakan hewan lunak yang
diamati dalam penelitian komunitas di perairan laguna kawasan Alas Purwo. Ciri-ciri
Mollusca secara umum adalah tubuh lunak dan tidak berbuku-buku biasanya tubuh
bercangkang dari zat kapur, hewan ini ada yang hidup di darat, di air tawar dan
ada pula yang hidup di laut, tubuh simetri bilateral, jenis kelamin umumnya
terpisah, tetapi dapat juga hermaprodit, cangkang dibentuk oleh mantel, badan
terdiri dari kepala, kaki dan massa jerohan, kaki termodifikasi untuk merayap,
berenang bahkan untuk menangkap makanan (Kastawi, 2005).
Pantai yang dapat
diteliti indeks keragaman, kemerataan dan kekayaan Mollusca adalah pantai
Pancur. Pantai tersebut terletak 8 km ke arah utara dari pintu masuk kawasa
Alas Purwo. Di pantai ini indeks keragaman, kemerataan dan kekayaannnya Molluscaa
masih cukup tinggi dan berbeda pada setiap zona yang ada (Andreas, 2008).
Mollusca termasuk
salah satu hewan yang terdapat di daerah tepi pantai, berdasarkan habitatnya
mollusca memiliki rentangan habitat yang cukup lebar mulai dari dasar laut
sampai garis panjang surut tertinggi.
Sehingga mollusca banyak ditemukan di Pantai Pancur. Oleh karena itu ditulislah
laporan yang berjudul “Pengamatan
Komunitas Mollusca di Pantai Pancur, Taman Nasional Alas Purwo Kecamatan Tegal
Dlimo, Kabupaten Banyuwangi” untuk
mengamati keanekaragaman Mollusca di kawasan pantai Pancur, Alas Purwo.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang yang telah dipaparkan, dapat diambil beberapa
rumusan masalah yakni sebagai berikut.
1. Bagaimana
jenis-jenis Mollusca yang dapat ditemukan di Pantai Pancur Taman Nasional Alas
Purwo Banyuwangi?
2. Bagaimana
indeks keanekaragaman (H), kemerataan (E), kekayaan (R), dan dominansi (D)
jenis dari Mollusca yang ditemukan di daerah Pantai Pancur Taman Nasional Alas
Purwo?
3. Bagaimana
jenis Mollusca yang dominan pada tiap zona di kawasan Pantai Pancur Taman
Nasional Alas Purwo Banyuwangi?
4. Bagaimana
perbandingan H, E, R, D Mollusca dari tiap zona yang ditentukan di daerah
Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo?
5. Bagaimana
distribusi jenis Mollusca di kawasan Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo
Banyuwangi?
6. Bagaimana
pengaruh faktor abiotik terhadap nilai H,E,R, D Mollusca yang ditemukan di
daerah Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo?
1.3 Tujuan
Dalam praktikum kali ini bertujuan untuk :
1. Untuk
mengetahui jenis-jenis Mollusca yang dapat ditemukan di Pantai Pancur Taman
Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
2. Untuk
mengetahui indeks keanekaragaman (H), kemerataan (E), kekayaan (R), dan
dominansi (D) jenis dari Mollusca yang ditemukan di daerah Pantai Pancur Taman
Nasional Alas Purwo.
3. Untuk
mengetahui jenis Mollusca yang dominan pada tiap zona di kawasan Pantai Pancur
Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
4. Untuk
membandingkan H, E, R, D Mollusca dari tiap zona yang ditentukan di daerah
Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo.
5. Untuk
mengetahui distribusi jenis Mollusca di kawasan Pantai Pancur Taman Nasional
Alas Purwo Banyuwangi.
6. Untuk
mengetahui pengaruh faktor abiotik terhadap nilai H,E,R, D Mollusca yang
ditemukan di daerah Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo.
1.4 Ruang Lingkup
1. Teknik
pengambilan data mengggunakan metode transek.
2. Spesies
yang diamati adalah anggota filum Molusca.
3. Sampel
spesies yang diambil, dimasukkan kedalam botol plakon.
1.5 Definisi Operasional
1.
Mollusca adalah filum dari hewan yang bertubuh lunak tidak beruas dan tubuh
dilindungi oleh satu atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur (CaCO3), namun
ada pula yang tidak memiliki cangkang. (Sri Endah, 2016).
2. Keanekaragaman
adalah tingkat jumlah individu (spesies yang ada) dalam suatu tempat dan
kondisi.
3. Kemerataan
adalah tingkat penyebaran suatu individu di berbagai tempat yang berbeda.
4. Kekayaan
adalah banyaknya suatu individu dal suatu wilayah.
5.
Dominasi adalah spesies yang paling dominan
dalam suatu tempat.
BAB
2
KAJIAN
PUSTAKA
Mollusca berasal dari bahasa Romawi milos
yang berarti lunak. Jenis Mollusca
yang umumnya dikenal siput, kerang dan cumi-cumi. Kebanyakan dijumpai di laut
dangkal sampai kedalaman mencapai 7000 m, beberapa di air payau, air tawar, dan
darat. Anggota dari Filum Mollusca
mempunyai bentuk tubuh yang sangat berbeda dan beranekaragam, dari bentuk
silindris, seperti cacing dan tidak mempunyai kaki maupun cangkang, sampai
bentuk hampir bulat tanpa kepala dan tertutup kedua keping cangkang besar,
cangkang terbuat dari zat kapur atau kitin. Tubuh tidak bersegmen kecuali pada Monoplacophora,
dinding tubuh tebal dan berotot,
saluran pencernaan berkembang dengan baik, memiliki sistem peredaran darah dan
jantung.. Oleh karena itu berdasarkan bentuk tubuh, bentuk dan jumlah
cangkang, serta beberapa sifat lainnya, filum Mollusca dibagi menjadi 8 kelas,
yaitu: 1). Chaetodermomorpha; 2). Neomeniomorpha; 3). Monoplacophora;
4). Polyplacophora; 5). Gastropoda; 6). Pelecypoda; 7). Scaphopoda;
dan 8). Cephalopoda (Kastawi, 2005).
Ciri-ciri
umum yang dimiliki anggota Mollusca memiliki ciri tubuh Tubuh tidak bersegmen.
Simetri bilateral, Tubuhnya terdiri dari "kaki" muskular, dengan
kepala yang berkembang beragam menurut kelasnya. Kaki dipakai dalam beradaptasi
untuk bertahan di substrat, menggali dan membor substrat, atau melakukan
pergerakan. Ukuran dan bentuk tubuh Ukuran dan bentuk tubuh moluska sangat
bervariasi. Misalnya, siput yang panjangnya hanya beberapa milimeter dengan
bentuk bulat telur. Namun, ada juga cumi-cumi raksasa dengan bentuk torpedo
bersayap yang panjangnya 17-18m. Strukur dan fungsi tubuh tubuh hewan ini
terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kaki, badan, dan mantel. Kaki merupakan
penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot, berfungsi untuk bergerak merayap
atau menggali. Pada beberapa mollusca kakinya ada yang termodifikasi menjadi
tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Sedangkan massa viseral adalah
bagian tubuh mollusca yang lunak dan merupakan kumpulan sebagaian besar organ
tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Mantel membentuk rongga
mantel yang berisi cairan yang dapat mengekskresikan bahan penyusun cangkang
pada Mollusca bercangkang. Pada rongga mantel ini terdapat lubang insang,
lubang ekskresi, dan anus. Sistem pencernaan mollusca lengkap terdiri dari
mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus. Pada Mollusca tertentu ada yang
memiliki rahang dan lidah bergigi yang melengkung kebelakang yang disebut
radula, berfungsi untuk melumat makanan (Kastawi, 2005).
Gastropoda
berasal dari kata gastros : perut; podos : kaki. Jadi Gastropoda
berarti hewan yang berjalan dengan perutnya. Hewan anggota kelas Gastropoda
umumnya bercangkang tunggal yang terpilin membentuk spiral dengan bentuk dan
warna yang beragam. Kelas Gastropoda merupakan kelas terbesar dari Mollusca
lebih dari 75.000 spesies yang telah teridentifikasi, dan 15.000 diantaranya
dapat dilihat bentuk fosilnya. Ditemukannya Gastropoda di berbagai macam
habitat, seperti di darat dan di laut. Maka dapat disimpulkan bahwa Gastropoda
merupakan kelas yang paling sukses di antara kelas yang lain (Kastawi, 2005).
2.2.1. Morfologi
Morfologi
Gastropoda terwujud dalam morfologi cangkangnya. Sebagian besar cangkangnya
terbuat dari bahan kalsium karbonat yang di bagian luarnya dilapisi periostrakum
dan zat tanduk. Cangkang Gastropoda yang berputar ke arah belakang searah
dengan jarum jam disebut dekstral, sebaliknya bila cangkangnya berputar
berlawanan arah dengan jarum jam disebut sinistral. Siput-siput Gastropoda yang
hidup di laut umumnya berbentuk dekstral dan sedikit sekali ditemukan dalam
bentuk sinistral. Struktur umum morfologi Gastropoda terdiri atas: posterior,
sutures, whorl, spiral sculptures, axial, longitudinal, sculpture,
posterior canal, aperture, operculum, plaits on columella, outer lip,
columella, anterior canal (Kastawi, 2005).
2.2.2
Anatomi
Struktur
anatomi Gastropoda dapat dilihat pada susunan tubuh gastropoda yang terdiri
atas: kepala, badan, dan alat gerak .Kepala berkembang dengan baik, dilengkapi
dua pasang tentakel sebagai alat peraba. Sepasang di antaranya bersifat
retraktil dan dilengkapi sebuah mata. Mulut dilengkapi dengan lidah perut dan
gigi radula. Berdasarkan tipenya, gigi radula pada Gastropoda dapat dibedakan
menjadi 5 tipe yaitu: tipe rhipidoglossate, docoglossate, taenioglossate,
rachiglossate, dan toxoglossate . Alat-alat yang penting di dalam badan hewan
Gastropoda untuk hidupnya diantaranya ialah alat pencernaan, alat pernafasan
serta alat genitalis untuk pembiakannnya. Saluran pencernaan terdiri atas:
mulut, pharynx yang berotot, kerongkongan, lambung, usus, anus. Kaki pada hewan
Gastropoda memiliki bentuk yang lebar dan pipih. Bagi yang bercangkang,
terputar 180° terhadap kepala dan kaki. Kaki dapat mengeluarkan lendir untuk
memudahkan pergerakan (Romimohtarto, 2001).
2.2.3
Cangkang
Cangkang
siput digunakan untuk melindungi diri. Ada yang tanpa penutup dan ada yang
dengan penutup atau operculum (operculum). Operkulum ini terbuat dari
zat kapur atau zat tanduk yang lebih luas. Operkulum menunjukkan garis-garis
pertumbuhan dan kadang-kadang dapat digunakan untuk menentukan umur. Bentuk
cangkang setiap jenis berbeda dan mensifati jenis itu. Bentuk cangkang juga
dapat dikaitkan dengan pola habitatnya (Romimohtarto, 2001).
Cangkang gastropoda terdiri dari 4 lapisan. Tipe cangkang
gastropoda terdiri dari 17 tipe yaitu: tipe conical, biconical, obconical,
turreted, fusiform, patelliform, spherical, ovoid, discoidal, involute,
globose, lenticular, obovatus, bulloid, turbinate, cylindrical dan trochoid.
Hal yang perlu diperhatikan dalam mengamati dan menggambar cangkang yaitu:
ukuran cangkang, arah putaran cangkang, jumlah putaran cangkang, dan ada
tidaknya operkulum (Kastawi, 2005).
2.2.4.
Pertumbuhan
Pertumbuhan dari siput dan kerang terjadi jauh lebih cepat
diwaktu umurnya masih muda dibandingkan dengan siput yang sudah dewasa. Ada
siput yang tumbuh terus sepanjang hidupnya, tetapi ada pula yang pertumbuhannya
terhenti setelah dewasa . Karena proses pertumbuhan siput muda cepat, maka
jenis yang muda jauh lebih sedikit ditemukan dibandingkan dengan yang dewasa. Umur
siput sangat bervariasi, ada beberapa jenis siput darat yang dapat berkembang
biak secara singkat dan dapat mengeluarkan telur-telurnya dua minggu setelah
menetas, tetapi ada juga yang berumur sangat panjang sampai puluhan tahun.
Menurut para ahli, umur siput dapat diperkirakan dengan melihat alur-alur pada
bagian tepi luar cangkang (Kastawi, 2005).
Menurut
Sri Endah (2016), Mollusca diklasifikasikan menjadi tujuh kelas.
1.
Aplacophora
-
Dalam bahasa Yunani, “a” : tanpa, “plax”
: lempengan.
-
Tidak memiliki cangkang.
-
Tubuh berbentuk seperti cacing.
-
Ukuran tubuh 5 mm -2,5 cm.
-
Tubuh memiliki sisik kalkareus dan spikula
sebagai pengganti cangkang.
-
Habitat lautan kedalaman 7000m atau 200-3000m.
-
Cara hidup berjalan perlahan di dasar laut atau
melilit pada hydrozoa atau karang lunak sebagai makanannya.
-
Memiliki kebiasaan menggali sehingga kaki
mengalami reduksi, spesies lain ada yang memiliki lekukan pertengahanb ventral
tubuhnya untuk berjalan.
-
Pada umumnya hermafrodit.
2.
Monoplcophora
-
Memiliki sebuah cangkang yang simetri bilateral
memiliki 3-8 etraktor kaki.
-
Bentuk cangkang bervariasi ada yang kerucur,
lempeng pipih dan perisai. Ujung apeks cangkang melengkung ke anterior .
-
Hewan ini berkelamin terpisah atau diosious dimana
dimana dua pasang gonad terletak pada pertengahan tubuh.
-
Fertilisasi terjadi secara eksternal.
-
Panjang tubuh 3mm-3cm.
3.
Polyplacophora
-
Memiliki banyak cangkang.
-
Ukuran 3 mm-40 cm.
-
Bentuk cangkang oval. Tubuh pipih dorsovntral.
-
Di bagian dorsal tubuh dilindungi delapan
keping cangkang yang tersusun tumpang tindih.
-
Cangkang tersusun atas dua lapian yaitu
tegmentum dan artikulamentum. Tegmentum merupakan lapisan terluar dan
artikulamentum merupakan lapisan terdalam.
-
Tepi setiap keping cangkang ditutupi jaringan
mantel dimana luas sempitnya penutupan berbeda pada tiap spesies.
-
Pada cangkang terdapat sejumlah penonjolan yang
membawa organ sensori atau esthete. Fungsi esthete sebagai reseptor taktil dan
visual yang sederhana.
-
Pergerakan menggunakan kaki yang berada di
permukaan ventral tubuh.
-
Diosious atau kelamin terpisah.
-
Fertilisasi eksternal, dimana telur atau sperma
di ligkungannya dihubungkan melalui gonofor.
-
Telur yang telah dibuahi menjadi larva trokofor
dan tidak memiliki fase larva veliger.\
4.
Scaphopoda
Hewan yang tergolong scphopoda
memiliki cangkang berbentuk tabung silinder panjang seperti gading gajah dan
kedua ujungnya terbuka. Berdasarkan bentuk cangkangnya populer disebut siput
gading atau molusca bercangkang gigi. Jumlah spesies sekitar 350 yang semuanya
bersifat penggali/membenamkan diri di pasir pada kedalaman air lebih dari 6 m.
Rerata panjang cangkang 3 sampai 6 cm, namun Dentalium vernedei di
pantai jepang merupakan sspesies terbesar dengan panjang tubuh mencapai 15 cm (Sri
Endah, 2016).
Bagian anterior cangkang ditemukan
kepala dan kaki. Di daerah kepala terdapat tentakel berkepala dan bersilium
(disebut captacula) bersifat sensoris dan prehensil berfungsi menangkap
makanan. Bagian yang berlawanan dengan anterior tubuh merupakan posterior tubuh
sebagai tempat penghisapan dan pengeluaran air. Air masuk kedalam tubuh dan
keluar kembali melalui lubang posterior. Hewan tidak memiliki insang sehingga
pertukaran gas melalui permukaan mantel. Cangkang sedikit melengkung, dan
daerah konkaf cangkang merupakan bagian dorsal. Scaphpoda beersifat diosius.
Fertilisasi terjadi secara eksternal. Telur yang dibuahi akan berkembang
menjadi larva trokhopor kemudian menjadi larva veliger (Sri Endah, 2016).
5.
Gastropoda
Gastropoda merupakan kelas terbesar
dengan anggotanya yang masih hidup sekitar 30.000 spesies dan 15.000 spesies
telah menjadi fosil. Anggota kelas ini meliput keong darat, siput dan limpet.
Hewan gastropoda yang hidup di air
bernafas dengan menggunakan insang, namun pada spesies yang hidup di air tawar
atau di habitan terestrial insang mengalami modifikasi menjadi “paru-paru”.
Gastropoda yang memiliki paru-paru tersebut termasuk kelompok pulmonata. Banyak
anggota Pulmonata yang hidup di air tawar sehingga secara periodik hewan pergi
ke permukaan air untuk bernafas (Sri Endah, 2016).
6.
Pelecypoda
Pelecypoda
disebut juga dengan Bivalvia atau
Lamellibrankhiata. Kata pelecypoda memiliki arti kaki berbentuk kapak. Kata
Bivalvia berarti memiliki dua cangkang dengan engsel terletak di bagian dorsal.sedangkan
kata Lamillibrankhiata dikarenakan insangnya berbentuk lembaran-lembaran. Pada
beberapa spesies memiliki insang yang berukuran sangat besar, sehingga memiliki
fungsi tambahan sebagai pengumpul makanan selain sebagai tempat pertukaran gas.
kepala tidak berkembang namun sepasang palpus labialis mengapit mulutnya. Tubuh
bilateral simetris dan memiliki kebiasaan menggali liang pada pasir atau lumpur
menggunakan kakinya (Sri Endah, 2016).
7.
Cephalopoda
Cephalopoda memiliki arti kaki
bergabung dengan kepala dalam bentuk tangan, tentakel, dan atau sifon. Cara
bargerak dengan menyemprotkan air melalui sifon, sedaangkan tentakel dan tangan
digunakan untuk mencari makan. Dibandingkan dengan anggota filum molusca
lainnya, ceohalopoda teradaptasi dengan kebiasaan berenang. Hewan cephalopoda
umumnya memiliki panjang 6 sampai 70 cm termasuk tangan dan tentakel. Namun
pada cumi-cumi architeutis panjang tubuh sampai 16 m san lingkar badan 4
m (Sri Endah, 2016).
Anggota cephalopoda yamg masih hidup
diperkirakan 600 spesies. Kelas cephalopoda dibedakan menjadi 2 subkelas
berdasarkan jumlah dan bentuk tentakel. Kedua subkelas tersebut yaitu coleidea
dan nautiloidea. Subkelas coleidea terdiri atas cumi-cumi, sotong dan oktopus
yang semuanya memiliki 8 tangan dengan
batil isap pada permukaan dalam tangan. Cumi-cumi dan sotong memiliki tambahan
2 tentakel. Sedangkan subkelas nautiloidea contohnya genus nautilus memiliki
lebih dari 90 tentakel tampa batil isap dan setiap tentakel dapat di tarik
masuk kedalam sarungnya. Cangkang melingkar terbuat dari zat kapur dan terbagi
oleh sekat transversal menjadi kamar-kamar. Antara kamar yang saatu dengan yang
lainnya dihubungkan oleh sifunkulus (Sri Endah, 2016).
2.4.
Peranan
Peranan
moluska yang menguntungkan yaitu :
1.
Sumber makanan berprotein tinggi, misalnya tiram
batu (Aemaea sp.), kerang (Anadara sp.), kerang hijau (Mytilus viridis),
Tridacna sp., sotong (Sepia sp.) cumi-cumi (Loligo sp.), remis (Corbicula
javanica), dan bekicot (Achatina fulica) (Sri
Endah, 2016).
2.
Perhiasan, misalnya tiram mutiara (Pinctada
margaritifera). • Hiasan dan kancing, misalnya dari cangkang tiram batu,
Nautilus, dan tiram mutiara (Sri
Endah, 2016).
3.
Bahan baku teraso, misalnya cangkang Tridacna
sp. Merugikan Bekicot dan keong sawah yang merupakan hama dari tanaman. Siput
air adalah perantara cacing Fasciola hepatica (Sri
Endah, 2016).
Penyebaran
hewan Mollusca sangat luas dan umumnya memiliki kesamaan pola dasar tubuh.
Mollusca adalah salah satu jenis organisme yang memiliki rentangan habitat yang
cukup lebar mulai dari dasar laut sampai garis pasang surut tertinggi. Selain
itu ada yang hidup di air tawar bahkan terkadang ditemukan di habitat
terestrial, khususnya yang memiliki kelembaban tinggi. Sifat hidup Mollusca
bervariasi, ada yang hidup bebas namun beberapa spesies lainnya bersifat
parasit pada organisme lain (Nontji, 1987).
Mollusca memiliki kapasitas adaptasi
yang tinggi sehingga penyebarannya sangat luas, baik di darat maupun di
perairan, mulai dari perairan yang dangkal termasuk pantai, estuaria adalah
perairan tawar sampai kedalaman laut yang tidak dapat ditembus cahaya matahari.
Keberadaan hewan Mollusca ini tergantung pada variasi faktor lingkungan
habitatnya. Lingkungan pantai selalu berubah–ubah karena pasang surut sehingga banyak
ditemukan variasi kehidupan dalam jumlah spesies maupun organismenya (Nontji,
1987).
Mollusca
ini banyak terdapat di lumpur, pasir, dan di danau. Dimana pada lumpur, pasir,
dan danau ini banyak mengakumulasi bahan organik yang dapat dijadikan sebagai bahan
makanan. Mollusca ini biasanya menguburkan diri dan pada saat tertentu mereka
pindah dari satu tempat ke tempat lain, hal ini berkaitan dengan adaptasi untuk
mendapatkan makanan guna melangsungkan hidupnya dan juga untuk menghindari diri
dari predator. Mollusca ini dapat hidup pada suhu yang berkisar antara 0-40
karena pada suhu itu hewan mampu hidup aktif, sedangkan untuk pH 4.5-5, dan
untuk kelembaban serta salinitas hewan ini dapat hidup pada kondisi yang normal
(Yuniarti, 2012).
2.5.
Indeks Keanekaragaman, Kemerataan dan
Dominansi
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiever (H’)
Indeks
keanekaragaman dapat digunakan untuk mencirikan hubungan kelompok genus dalam
komunitas. Indeks keanekaragaman yang dipergunakan adalah indeks Shannon Wiever
H’ = -∑ (pi ln pi);
Pi = 
Keterangan :
H’ = indeks
keanekaragaman Shannon-Wiener
N = Jumlah total
individu semua jenis dalam komunitas
Ni = jumlah individu
jenis ke 1
Pi = kelimpahan
proporsional
Menurut
Wilhm and Dorris (1986), kriteria indeks keanekaragaman dibagi dalam 3
kategori yaitu :
H`
< 1 : Keanekaragaman jenis rendah
1 <
H` < 3 : Keanekaragaman jenis sedang
H` > 3 : Keanekaragaman jenis tinggi
Indeks Keseragaman Evenness (E)
Untuk
mengetahui keseimbangan komunitas digunakan indeks keseragaman, yaitu ukuran
kesamaan jumlah individu antar spesies dalam suatu komunitas. Semakin mirip
jumlah individu antar spesies (semakin merata penyebarannya) maka semakin besar
derajat keseimbangan (Wilhm and Dorris, 1986).
E = 
Keterangan :
S = jumlah
keanekaragaman
Dengan
kisaran sebagai berikut :
e <
0,4 : Keseragaman populasi kecil
0,4
< e < 0,6 : Keseragaman populasi sedang
e >
0,6 : Keseragaman populasi tinggi
Semakin
kecil nilai indeks keanekaragaman (H’) maka indeks keseragaman (e) juga akan
semakin
kecil, yang mengisyaratkan adanya dominansi suatu spesies terhadap spesies
lain.
Riches/Kekayaan (R)
R = 
Keterangan :
N = jumlah individu
Dominansi
Dominansi adalah jenis individu yang paling banyak
jumlahnya. Dominansi merupakan pengendalian nisbi yang diterapkan makhluk atas
komposisi spesies dalam komunitas. Derajat dominansi terpusat di dalam satu,
beberapa atau banyak spesies dapat dinyatakan dengan indeks dominansi, yaitu
jumlah kepentingan tiap-tiap spesies dalam hubungan dengan komunitas secara keseluruhan
(Wilhm and Dorris, 1986).
Ekosistem atau sistem ekologis terdiri atas berbagai macam
komunitas dalam suatu daerah geografis besar. Istilah ekosistem telah
diperkenalkan oleh Tansley pada tahun 1935, dan ide ekosistem digunakan untuk
menjelaskan hubungan antara komunitas biotik dengan berbagai faktor fisika dan
kimia lingkungan. Konsep ekosistem memberikan suatu model lingkungan untuk
mengevaluasi kerja dari berbagai sistem biologis pada suatu skala besar (Brahmana,
2001). Pantai merupakan daerah yang mempunyai kedalaman kurang dari 200meter.
Pada pantai terdapat daerah litoral yaitu daerah yang
berada diantara pasang tertinggi dan air surut terendah atau disebut daerah
intertidal. Adanya nutrien di dalam air dan arus serta didukung oleh faktor
kimia dan fisika menjadikan pantai sebagai perairan yang kaya keanekaragaman
jenis. Suhu dan salinitas merupakan parameter-parameter fisik yang penting
untuk kehidupan organisme di perairan pantai. Kisaran suhu untuk hidup aktif
organisme pantai adalah 0 sampai 35°C (Nybaken, 1992).
Perairan pantai dapat di bedakan menjadi beberapa Zona
yaitu : zona batu lempeng, zona batu besar, zona batu kecil, zona batu beralga,
dan zona batu berpasir. Zona-zona tersebut termasuk ke dalam zona lithoral yang
merupakan wilayah pantai atau pesisir, pada wilayah ini saat air pasang
tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan sehingga
wilayah ini sering disebut wilayah pasang surut (Nybaken, 1992).
2.7. Faktor
Abiotik
Faktor Abiotik Yang Mempengaruhi
Keberagaman Organisme Di Zona Intertidal yaitu suhu, substrat, salinitas, pH,
kelembaban, aksi ombak dan arus. Sedangkan
Faktor Biotik Yang Mempengaruhi Keberagaman Organisme Di Zona Intertidal :
1. Potensial
biotik pada fase-fase tertentu selalu akan mengalami hambatan oleh berbagai
macam persaingan yang antara lain berupa persaingan (kompetisi), predasi,
penyakit, sumber daya makanan (Odum, 1993).
2. Adanya
interaksi yang bersifat persaingan sering melibatkan ruangan, unsur hara,
bahan-bahan buangan atau sisa penyakit dan sebagainya dan banyak tipe interaksi
timbal balik bersama (Odum, 1993).
3.
Dominansi hewan pantai yang menguasai ruang
tertentu, suatu saat akan diambil alih oleh spesies yang lain karena adanya
predator hewan, dominan yang pertama. Sehingga secara efektif predator akan
mencegah dan mengurangi, mendominasikan pertama yang menempati seluruh ruang
(Odum, 1993).
Suhu merupakan faktor yang banyak
mendapat perhatian dalam pengkajian kelautan. Suhu merupakan faktor pembatas
bagi pertumbuhan dan distribusi makhluk hidup (Odum, 1993). Suhu mempengaruhi
proses metabolisme dan biokimia seperti aktivitaas enzim dan konsumsi oksigen,
pertumbuhan dan reproduksi serta morfologi seperti bentuk cangkang Mytilus
edulis (Yuniarti, 2012).
Suhu air pada kisaran 27-310 C
juga dianggap cukup layak untuk kehidupan mollusca seperti tiram mutiara.
Menurut Brahmana (2001) Seluruh spesies yang hidup dalam lingkungan laut,
terbatas pada satu kisaran sempit dari suhu. Beberapa spesies dapat bertahan
hidup dalam waktu tertentu dengan temperatur rendah, biasanya pada satu tingkat
tidak aktif, tetapi beberapa spesies alga hijau biru dan bakteri dapat
beradaptasi pada temperatur lingkungan ekstrim ±90°C. Adanya variasi
temperature dalam harian atau variasi musimaan sangat mempengaruhi metabolisme
dan aktivitas spesies. Kebanyakan spesies dapat betahan hidup dalam temperatur
turun daripada temperatur naik, dengan perubahan temperature yang sama (misal
temperature turun 10°C, lebih tahan daripada temperatur naik 10°C).
BAB
3
METODOLOGI
PENELITIAN
3.1 Jenis
Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan dengan cara mengamati secara
langsung sampel berupa Mollusca di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo
Banyuwangi
3.2 Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 28
Maret 2014, pukul 08.00-12.00 WIB
·
Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Pantai Pancur
Alas Purwo Banyuwangi, Jawa Timur
·
Identifikasi Spesies dilakukan di penginapan
triangulasi Alas Purwo Banyuwangi, Jawa Timur
3.3 Populasi
dan Sampel
1. Objek
yang diteliti adalah semua Mollusca subkelas Gastropoda dan Bivalvia yang ada
di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi
2. Sampel
yang idamati adalah kenis Mollusca yang ada dalam 5 zona amatan yaitu zona batu
besar, zona batu kecil, zona batu beralga, zoa batu lempeng dan zona batu
berlamun
3.4 Alat dan Bahan
·
Alat yang dipakai dalam pengamatan mollusca
antara lain :
-
Roll meter
-
Kuadran 1x1 meter
-
Penjepit
-
Plakon
-
Tali rafia
-
pH meter
-
Spidol marker
-
Kaleng
-
DO meter
-
Hand refractometer
-
Multiparameter
·
Sedangkan Bahan yang digunakan antara lain :
-
Kantong plastik
-
Botol plakon
-
Formalin 4%
-
Aquades
-
Alkohol 70%
-
Kertas label
3.5 Prosedur Kerja
Langkah pertama yaitu melakukan persiapan menuju
lokasi pengamatan sebagai berikut:
1.
Menyiapkan alat yang di perlukan pada saat
praktikum
2.
Mendengarkan intruksi dan arahan dari asisten
atau dosen pendamping
Langkah kedua yaitu menentuan lokasi pengambilan
sampel dengan langkah sebagai berikut :
1.
Berjalan ke lokasi pengambilan sampel secara
berkelompok dengan didampingi oleh asisten pendamping.
2.
Memasuki pantai dan membuat plot berukuran 1x1 m
sebanyak tiga kali ulangan pada 5 zona.
3.
Meletakkan transek pada zona yang akan diamati
(zona batu lempeng, zona batu besar, zona batu kecil, zona batu beralga, dan
zona batu berpasir)
Langkah yang ketiga yaitu cara pengambilan sampel
dengan langkah sebagai berikut:
1.
Mengambil sampel pada tiap plot dengan mencatat
tiap jenis Mollusca yang ditemukan dan dihitung jumlahnya;
2.
Untuk keperluan identifikasi diambil satu
spesies dan dimasukkan ke dalam botol plakon dan kemudian diberi nama;
Langkah yang keempat yaitu pengukuran abiotik dengan
langkah sebagai berikut :
1.
Mengukur faktor abiotiknya, yaitu salinitas air
dengan menggunakan pH meter untuk mengukur keasaman air laut.
Langkah yang kelima yaitu perawatan spesimen yang
telah diambil sebagai berikut :
1.
Mengumpulkan semua sampel yang ditemukan,
2.
Membersihkan sampel yang ditemukan,
3.
Memasukkan sampel yang ditemukan ke dalam botol yang telah berisi alkohol dan ditutup rapat
4.
Mengabadikan sampel tersebut,
5.
Mengidentifikasi sampel yang didapat dan
menyusun klasifikasinya.
Langkah yang terakhir yaitu pembuatan hasil laporan
1.
Mengidentifikasi spesies yang sudah ditemukan.
2.
Mengadakan kompilasi data dan membuat laporan
hasil penelitian.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara langsung menuju ke
lokasi pengamatan yakni di Pantai Pancur kawasan Taman Nasional Alas Purwo.
Kemudian dilakukan penentuan lokasi menjadi 5 zona yakni zona batu lempeng,
zona batu besar, zona batu kecil, zona batu beralga, dan zona batu berpasir
yang pada setiap kelompok akan mengamati pada satu zona dengan tiga ulangan.
Sehingga jika ada 5 kelompok dalam 1 zona maka akan diperoleh 15 ulangan untuk
1 zona yang diamati. Kemudian pengambilan sampel dilakukan setiap spesies 1
sampel saja hal ini ditujukan agar kelestarian Mollusca yang ada tetap terjaga.
Selanjutnya spesimen yang ada diamati dan diidentifikasi di penginapan,
selanjutnya akan dicocokkan dengan literatur di Gedung O5 Biologi FMIPA UM.
3.7 Teknik Analisis Data
3.8 Indeks
Keanekaragaman, Kemerataan dan Dominansi
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiever (H’)
Indeks
keanekaragaman dapat digunakan untuk mencirikan hubungan kelompok genus dalam
komunitas. Indeks keanekaragaman yang dipergunakan adalah indeks Shannon Wiever
H’ = -∑ (pi ln pi);
Pi = 
Keterangan :
H’ = indeks
keanekaragaman Shannon-Wiener
N = Jumlah total
individu semua jenis dalam komunitas
Ni = jumlah individu
jenis ke 1
Pi = kelimpahan
proporsional
Menurut
Wilhm and Dorris (1986), kriteria indeks keanekaragaman dibagi dalam 3
kategori yaitu :
H`
< 1 : Keanekaragaman jenis rendah
1 <
H` < 3 : Keanekaragaman jenis sedang
H` > 3 : Keanekaragaman jenis tinggi
Indeks Keseragaman Evenness (E)
Untuk
mengetahui keseimbangan komunitas digunakan indeks keseragaman, yaitu ukuran
kesamaan jumlah individu antar spesies dalam suatu komunitas. Semakin mirip
jumlah individu antar spesies (semakin merata penyebarannya) maka semakin besar
derajat keseimbangan (Wilhm and Dorris, 1986).
E = 
Keterangan :
S = jumlah
keanekaragaman
Dengan
kisaran sebagai berikut :
e <
0,4 : Keseragaman populasi kecil
0,4
< e < 0,6 : Keseragaman populasi sedang
e >
0,6 : Keseragaman populasi tinggi
Semakin
kecil nilai indeks keanekaragaman (H’) maka indeks keseragaman (e) juga akan
semakin
kecil, yang mengisyaratkan adanya dominansi suatu spesies terhadap spesies
lain.
Riches/Kekayaan (R)
R = 
Keterangan :
N = jumlah individu
Dominansi
Dominansi adalah jenis individu yang paling banyak jumlahnya. Dominansi
merupakan pengendalian nisbi yang diterapkan makhluk atas komposisi spesies
dalam komunitas. Derajat dominansi terpusat di dalam satu, beberapa atau banyak
spesies dapat dinyatakan dengan indeks dominansi, yaitu jumlah kepentingan
tiap-tiap spesies dalam hubungan dengan komunitas secara keseluruhan (Wilhm and
Dorris, 1986).
BAB
4
DATA
DAN ANALISIS DATA
4.1 Data Pengamatan
Data yang dipaparkan berikut merupakan data yang
telah dikompilasi dan telah dihitung satu angkatan. Dari hasil didapatkan dari
pengambila sampel, didapatkan data per zona sebagai berikut :
Tabel 4.1.1. Tabel Spesies dan Jumlah yang
Ditemukan pada Zona Batu Besar
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Planaxis
sulcatus
|
28
|
|
2.
|
Nerita
undata
|
219
|
|
3.
|
Hexaplex
sp
|
30
|
|
4.
|
Nerita
planospira
|
236
|
|
5.
|
Nertita
sp 1
|
128
|
|
6.
|
Conusebraeus
sp.
|
19
|
|
7.
|
Monodonta
sp.
|
15
|
|
8.
|
Patella
sp.
|
10
|
|
9.
|
Nerita
sp 2
|
7
|
|
10.
|
Chlamys
sp.
|
3
|
|
11.
|
Cymatium
dolarium
|
6
|
|
12.
|
Cellana
sp.
|
1
|
|
13.
|
Lyria
sp.
|
4
|
|
14.
|
Ovatella
sp.
|
2
|
|
15.
|
Trochus
sp.
|
9
|
|
Total
|
717
|
|
Tabel 4.1.2 Tabel Faktor Abiotik Zona
Batu Besar
|
Suhu
|
34,6°C
|
|
DO
|
0,81
|
|
Salinitas
|
3 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
45 mg/C
|
|
pH
|
-
|
|
Intensitas Cahaya
|
337 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
2,23 m/s
|
|
Kelembaban
|
61,50%
|
Tabel 4.1.3. Tabel Spesies dan Jumlah yang
Ditemukan pada Zona Batu Kecil
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Mitra
litterata
|
2
|
|
2.
|
Fulgiconus
exiguus bougei
|
3
|
|
3.
|
Planaxis
sulcatus
|
45
|
|
4.
|
Nerita
undata
|
74
|
|
5.
|
Caminella
sp.
|
34
|
|
6.
|
Hexaplex
sp
|
5
|
|
7.
|
Nerita
planospira
|
75
|
|
8.
|
Astraea
sp.
|
4
|
|
9.
|
Nertita
sp 1
|
10
|
|
10.
|
Conusebraeus
sp.
|
1
|
|
11.
|
Monodonta
sp.
|
7
|
|
12.
|
Patella
sp.
|
3
|
|
13.
|
Nerita
sp 2
|
24
|
|
14.
|
Enigma
sp.
|
5
|
|
15.
|
Patella
barbara
|
2
|
|
Total
|
294
|
|
Tabel 4.1.4
Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Kecil
|
Suhu
|
32,47°C
|
|
DO
|
6,81
|
|
Salinitas
|
4,7 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
12,67 mg/C
|
|
pH
|
-
|
|
Intensitas Cahaya
|
434 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
1,99
|
Tabel 4.1.5. Tabel Spesies dan Jumlah yang
Ditemukan pada Zona Batu Alga
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Mitra
litterata
|
15
|
|
2.
|
Fulgiconus
exiguus bougei
|
2
|
|
3.
|
Planaxis
sulcatus
|
21
|
|
4.
|
Nerita
undata
|
25
|
|
5.
|
Hexaplex
sp
|
12
|
|
6.
|
Nerita
planospira
|
5
|
|
7.
|
Nertita
sp 1
|
5
|
|
8.
|
Conusebraeus
sp.
|
3
|
|
9.
|
Monodonta
sp.
|
6
|
|
10.
|
Patella
sp.
|
60
|
|
11.
|
Nerita
sp 2
|
3
|
|
12.
|
Cypraea
stercoraria
|
1
|
|
13.
|
Lyria
sp. 1
|
2
|
|
Total
|
162
|
|
Tabel 4.1.6
Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Alga
|
Suhu
|
39,1°C
|
|
DO
|
8,4
|
|
Salinitas
|
4,0 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
4 mg/C
|
|
pH
|
8,08
|
|
Intensitas Cahaya
|
303 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
2,93
|
Tabel 4.1.7. Tabel Spesies dan Jumlah yang
Ditemukan pada Zona Batu Lempeng
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Fulgiconus
exiguus bougei
|
2
|
|
2.
|
Nerita
undata
|
160
|
|
3.
|
Caminella
sp.
|
1
|
|
4.
|
Hexaplex
sp
|
19
|
|
5.
|
Nerita
planospira
|
215
|
|
6.
|
Astraea
sp.
|
1
|
|
7.
|
Monodonta
sp.
|
7
|
|
8.
|
Patella
sp.
|
173
|
|
9.
|
Nerita
sp 2
|
14
|
|
10.
|
Chlamys
sp.
|
5
|
|
11.
|
Enigma
sp.
|
22
|
|
12.
|
Meretrix
sp.
|
1
|
|
13.
|
Ranella
sp.
|
1
|
|
14.
|
Cymatium
dolarium
|
14
|
|
15.
|
Strombus
sp.
|
1
|
|
Total
|
641
|
|
Tabel 4.1.8
Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Lempeng
|
Suhu
|
31°C
|
|
DO
|
23,7
|
|
Salinitas
|
4,0 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
9 mg/C
|
|
pH
|
8,39
|
|
Intensitas Cahaya
|
448 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
3,21
|
Tabel 4.1.9. Tabel Spesies dan Jumlah yang
Ditemukan pada Zona Batu Berlamun
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Fulgiconus
exiguus bougei
|
9
|
|
2.
|
Planaxis
sulcatus
|
15
|
|
3.
|
Nerita
undata
|
28
|
|
4.
|
Caminella
sp.
|
2
|
|
5.
|
Hexaplex
sp
|
15
|
|
6.
|
Nerita
planospira
|
11
|
|
7.
|
Astraea
sp.
|
2
|
|
8.
|
Patella
sp.
|
13
|
|
9.
|
Enigma
sp.
|
3
|
|
10.
|
Cypraea
stercoraria
|
2
|
|
Total
|
100
|
|
Tabel 4.1.10
Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Berlamun
|
Suhu
|
31,86°C
|
|
DO
|
6,83
|
|
Salinitas
|
4,67 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
12,67 mg/C
|
|
pH
|
12,87
|
|
Intensitas Cahaya
|
232 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
1,99
|
4.2 Analisis Data
Tabel 4.2. 1 Hasil Analisis H, E,
R Zona Batu Besar
|
Kode Nomor
|
Spesies
|
Jumlah
|
pi=n/N
|
ln pi
|
pi * ln pi
|
E
|
R
|
|
3
|
Planaxis sulcatus
|
28
|
0,039
|
-3,24287
|
-0,1266393
|
0,645987
|
2,129253
|
|
4
|
Nerita undata
|
219
|
0,305
|
-1,186
|
-0,3622523
|
||
|
6
|
Hexaplex sp
|
30
|
0,042
|
-3,17388
|
-0,1327983
|
||
|
7
|
Nerita planospira
|
236
|
0,329
|
-1,11124
|
-0,3657651
|
||
|
9
|
Nertita sp 1
|
128
|
0,179
|
-1,72305
|
-0,3076009
|
||
|
10
|
Conusebraeus sp.
|
19
|
0,026
|
-3,63064
|
-0,0962093
|
||
|
14
|
Monodonta sp.
|
15
|
0,021
|
-3,86703
|
-0,0809001
|
||
|
15
|
Patella sp.
|
10
|
0,014
|
-4,27249
|
-0,0595884
|
||
|
19
|
Nerita sp 2
|
7
|
0,010
|
-4,62917
|
-0,0451941
|
||
|
20
|
Chlamys sp.
|
3
|
0,004
|
-5,47646
|
-0,0229141
|
||
|
26
|
Cymatium dolarium
|
6
|
0,008
|
-4,78332
|
-0,0400278
|
||
|
29
|
Cellana sp.
|
1
|
0,001
|
-6,57508
|
-0,0091703
|
||
|
34
|
Lyria sp. 1
|
4
|
0,006
|
-5,18878
|
-0,0289472
|
||
|
37
|
Ovatella sp.
|
2
|
0,003
|
-5,88193
|
-0,0164071
|
||
|
38
|
Trochus sp.
|
9
|
0,013
|
-4,37785
|
-0,0549521
|
||
|
Total
|
717
|
1,7493663
|
|||||
Tabel 4.2.2 Hasil Analisis H, E, R
Zona Batu Kecil
|
Kode Nomor
|
Spesies
|
Jumlah
|
Pi
|
ln pi
|
pi * ln pi
|
E
|
R
|
|
1
|
Mitra litterata
|
2
|
0,006803
|
-4,99043
|
-0,0339485
|
0,745497
|
2,463236
|
|
2
|
Fulgiconus exiguus bougei
|
3
|
0,010204
|
-4,58497
|
-0,0467854
|
|
|
|
3
|
Planaxis sulcatus
|
45
|
0,153061
|
-1,87692
|
-0,2872833
|
|
|
|
4
|
Nerita undata
|
74
|
0,251701
|
-1,37951
|
-0,3472248
|
|
|
|
5
|
Caminella sp.
|
34
|
0,115646
|
-2,15722
|
-0,2494743
|
|
|
|
6
|
Hexaplex sp
|
5
|
0,017007
|
-4,07414
|
-0,0692881
|
|
|
|
7
|
Nerita planospira
|
75
|
0,255102
|
-1,36609
|
-0,3484928
|
|
|
|
8
|
Astraea sp.
|
4
|
0,013605
|
-4,29729
|
-0,0584665
|
|
|
|
9
|
Nertita sp 1
|
10
|
0,034014
|
-3,38099
|
-0,1149998
|
|
|
|
10
|
Conusebraeus sp.
|
1
|
0,003401
|
-5,68358
|
-0,0193319
|
|
|
|
14
|
Monodonta sp.
|
7
|
0,02381
|
-3,73767
|
-0,0889921
|
|
|
|
15
|
Patella sp.
|
3
|
0,010204
|
-4,58497
|
-0,0467854
|
|
|
|
19
|
Nerita sp 2
|
24
|
0,081633
|
-2,50553
|
-0,2045327
|
|
|
|
22
|
Enigma sp.
|
5
|
0,017007
|
-4,07414
|
-0,0692881
|
|
|
|
40
|
|
2
|
0,006803
|
-4,99043
|
-0,0339485
|
|
|
|
Total
|
294
|
|
|
2,0188423
|
|
|
|
Tabel 4.2.3 Hasil Analisis H, E, R
Zona Batu Alga
|
No
|
Nama
|
Jumlah
|
Pi
|
ln pi
|
pi * ln pi
|
E
|
R
|
|
1
|
Mitra litterata
|
15
|
0,092593
|
-2,37955
|
-0,2203283
|
0,76273
|
2,555234
|
|
2
|
Fulgiconus exiguus bougei
|
2
|
0,012346
|
-4,39445
|
-0,0542525
|
|
|
|
3
|
Planaxis sulcatus
|
21
|
0,12963
|
-2,04307
|
-0,2648429
|
|
|
|
4
|
Nerita undata
|
25
|
0,154321
|
-1,86872
|
-0,2883828
|
|
|
|
6
|
Hexaplex sp
|
12
|
0,074074
|
-2,60269
|
-0,1927918
|
|
|
|
7
|
Nerita planospira
|
5
|
0,030864
|
-3,47816
|
-0,1073506
|
|
|
|
9
|
Nertita sp 1
|
5
|
0,030864
|
-3,47816
|
-0,1073506
|
|
|
|
10
|
Conusebraeus sp.
|
3
|
0,018519
|
-3,98898
|
-0,0738701
|
|
|
|
14
|
Monodonta sp.
|
6
|
0,037037
|
-3,29584
|
-0,122068
|
|
|
|
15
|
Patella sp.
|
60
|
0,37037
|
-0,99325
|
-0,367871
|
|
|
|
19
|
Nerita sp 2
|
3
|
0,018519
|
-3,98898
|
-0,0738701
|
|
|
|
33
|
Cypraea stercoraria
|
1
|
0,006173
|
-5,0876
|
-0,0314049
|
|
|
|
34
|
Lyria sp. 1
|
2
|
0,012346
|
-4,39445
|
-0,0542525
|
|
|
|
37
|
Ovatella sp.
|
2
|
0,012346
|
-4,39445
|
-0,0542525
|
|
|
|
Total
|
162
|
|
|
2,0128885
|
|
|
|
Tabel 4.2.5 Hasil Analisis H, E, R
Zona Batu Lempeng
|
Nomor kode
|
Nama
|
Jumlah
|
Pi
|
ln pi
|
pi * ln pi
|
E
|
R
|
|
2
|
Fulgiconus exiguus bougei
|
2
|
0,00312
|
-5,76988
|
-0,0180028
|
0,593972
|
2,320893
|
|
4
|
Nerita undata
|
160
|
0,24961
|
-1,38786
|
-0,3464226
|
|
|
|
5
|
Caminella sp.
|
1
|
0,00156
|
-6,46303
|
-0,0100827
|
|
|
|
6
|
Hexaplex sp
|
19
|
0,029641
|
-3,51859
|
-0,1042952
|
|
|
|
7
|
Nerita planospira
|
215
|
0,335413
|
-1,09239
|
-0,3664027
|
|
|
|
8
|
Astraea sp.
|
1
|
0,00156
|
-6,46303
|
-0,0100827
|
|
|
|
14
|
Monodonta sp.
|
7
|
0,01092
|
-4,51712
|
-0,0493289
|
|
|
|
15
|
Patella sp.
|
173
|
0,269891
|
-1,30974
|
-0,3534862
|
|
|
|
19
|
Nerita sp 2
|
14
|
0,021841
|
-3,82397
|
-0,0835189
|
|
|
|
20
|
Chlamys sp.
|
5
|
0,0078
|
-4,85359
|
-0,0378595
|
|
|
|
22
|
Enigma sp.
|
22
|
0,034321
|
-3,37199
|
-0,1157312
|
|
|
|
23
|
Meretrix sp.
|
1
|
0,00156
|
-6,46303
|
-0,0100827
|
|
|
|
25
|
Ranella sp.
|
1
|
0,00156
|
-6,46303
|
-0,0100827
|
|
|
|
26
|
Cymatium dolarium
|
14
|
0,021841
|
-3,82397
|
-0,0835189
|
|
|
|
36
|
Strombus sp.
|
1
|
0,00156
|
-6,46303
|
-0,0100827
|
|
|
|
41
|
Neriknafulgurans
|
5
|
0,0078
|
-4,85359
|
-0,0378595
|
|
|
|
Total
|
641
|
|
|
1,6468401
|
|
|
|
Tabel 4.2.6 Ringkasan Indeks
Keanekaragaman, Kemerataan, dan Kekayaan Setiap Zona
|
No
|
Zona
|
H’
|
E
|
R
|
|
1.
|
Batu Besar
|
1,749366303
|
0,645987398
|
2,129253006
|
|
2.
|
Batu Kecil
|
2,018842256
|
0,745496614
|
2,463236301
|
|
3.
|
Batu Alga
|
2,012889
|
0,76273
|
2,555234
|
|
4.
|
Batu Lempeng
|
1,64684
|
0,593972
|
2,320893
|
|
5.
|
Batu Lamun
|
1,990229
|
0,864345279
|
1,954325169
|



Pengambilan
Mollusca di Pantai Pancur dilakukan pada 5 zona, yaitu zona batu besar, zona
batu kecil, zona batu alga, zona batu lempeng, dan zona lamun. Pada zona batu
besar ditemukan 15 spesies yaitu Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp,
Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp.,
Nerita sp 2, Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp., Lyria sp., Ovatella sp.,
Trochus sp. Spesies yang mendominasi pada zona batu besar adalah Nerita planospira sebanyak 236
spesies dengan nilai dominansi sebesar 32,64%.
Pada
zona batu kecil ditemukan 15 spesies yaitu Mitra
litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Planaxis sulcatus, Nerita undata,
Caminella sp., Hexaplex sp, Nerita planospira, Astraea sp., Nertita sp 1,
Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Nerita sp 2, Enigma sp., Patella
barbara. Spesies yang mendominasi pada zona ini adalah Nerita planospira sebanyak 75 spesies
dengan nilai dominasi sebesar 32,1%.
Pada
zona batu alga ditemukan 13 spesies, diantaranya Mitra litterata, Fulgiconus exiguus
bougei, Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp, Nerita planospira,
Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Nerita sp 2,
Cypraea stercoraria, Lyria sp.1. Spesies yang paling mendominasi pada zona ini
adalah Patella sp. sebesar 60 dengan nilai dominansi sebesar 37,04%.
Pada
zona batu lempeng ditemukan 15 spesies diantaranya Fulgiconus exiguus bougei,
Nerita undata, Caminella sp., Hexaplex sp, Nerita planospira, Astraea sp.,
Monodonta sp., Patella sp., Nerita sp 2, Chlamys sp., Enigma sp., Meretrix sp.,
Ranella sp., Cymatium dolarium, Strombus sp. Spesies yang paling
mendominasi pada zona ini adalah Nerita planospira sebanyak 215 dengan
dominansi sebesar 33,54%.
Pada
zona batu lamun ditemukan 10 spesies diantaranya Fulgiconus exiguus bougei,
Planaxis sulcatus, Nerita undata, Caminella sp., Hexaplex sp, Nerita planospira,
Astraea sp., Patella sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria. Spesies yang paling mendominasi pada zona ini adalah Nerita undata
sebanyak 28 dengan dominansi sebesar 28%.
Nilai
keanekaragaman (H’) pada zona batu besar sebesar 1,749366303, pada zona batu kecil sebesar 2,018842256, zona alga sebesar 2,012889,
zona lempeng sebesar 1,64684, sedangkan pada
zona lamun sebesar 1,990229. Dan untuk nilai kemerataan (E), pada
zona batu besar sebesar 0,645987398, pada zona batu kecil sebesar 0,745496614, zona alga sebesar 0,76273, zona lempeng sebesar 0,593972, sedangkan pada zona lamun sebesar 0,864345279. Sedangkan untuk nilai kekayaan (R) pada
zona batu besar sebesar 2,129253006, pada zona batu kecil sebesar 2,463236301, zona alga sebesar 2,555234, zona lempeng sebesar 2,320893, sedangkan pada zona lamun sebesar 1,954325169.
Dari hasil analisis menggunakan
teknik analisis didapatkan Indeks Keanekaragaman Shannon dan Wiener (H’) terbesar untuk Mollusca adalah pada zona batu kecil
sebesar 2,018842256, sedangkan nilai keanekaragaman terkecil adalah pada zona batu
berlempeng sebesar 1,64684. Indeks kemerataan untuk mollusca terbesar pada
zona batu lamun sebesar 0,864345279 dan nilai
kemerataan terkecil pada zona batu lempeng sebesar 0,593972. Indeks kekayaan
terbesar untuk mollusca adalah pada zona alga sebesar 2,555234, dan indeks
kekayaan terkecil adalah pada zona lamun dengan nilai 1,954325169.
Nilai indeks keanekaragaman dari kelima zona termasuk
dalam keanekaragaman jenis sedang karena masuk dalam kisaran 1 < H` < 3. Hasil indeks keseragaman untuk Mollusca pada semua zona
memiliki keseragaman populasi tinggi karena e > 0,6 kecuali pada zona
batu lempeng yang sedang. Untuk
nilai indeks kekayaan yang didapat dari kelima zona
termasuk kedalam kriteria sedikit kecuali pada batu alga yang tinggi karena
berkisar 2,5-4,0.
BAB
5
PEMBAHASAN
5.1 Jenis Mollusca yang Ditemukan Pada Pantai
Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi
Tabel 5.1.1 Spesies Mollusca
Berdasarkan Macam-Macam Substrat
|
Spesies Zona Batu Besar
|
Spesies Zona
Batu Kecil
|
Spesies Zona
Batu Alga
|
Spesies Zona Batu Lempeng
|
Spesies Zona Batu Lamun
|
|
Planaxis
sulcatus
|
Mitra
litterata
|
Mitra
litterata
|
Fulgiconus
exiguus bougei
|
Fulgiconus
exiguus bougei
|
|
Nerita
undata
|
Fulgiconus
exiguus bougei
|
Fulgiconus
exiguus bougei
|
Nerita
undata
|
Planaxis
sulcatus
|
|
Hexaplex
sp
|
Planaxis
sulcatus
|
Planaxis
sulcatus
|
Caminella
sp.
|
Nerita
undata
|
|
Nerita
planospira
|
Nerita
undata
|
Nerita
undata
|
Hexaplex
sp
|
Caminella
sp.
|
|
Nertita
sp 1
|
Caminella
sp.
|
Hexaplex
sp
|
Nerita
planospira
|
Hexaplex
sp
|
|
Conusebraeus
sp.
|
Hexaplex
sp
|
Nerita
planospira
|
Astraea
sp.
|
Nerita
planospira
|
|
Monodonta
sp.
|
Nerita
planospira
|
Nertita
sp 1
|
Monodonta
sp.
|
Astraea
sp.
|
|
Patella
sp.
|
Astraea
sp.
|
Conusebraeus
sp.
|
Patella
sp.
|
Patella
sp.
|
|
Nerita
sp 2
|
Nertita
sp 1
|
Monodonta
sp.
|
Nerita
sp 2
|
Enigma
sp.
|
|
Chlamys
sp.
|
Conusebraeus
sp.
|
Patella
sp.
|
Chlamys
sp.
|
Cypraea
stercoraria
|
|
Cymatium
dolarium
|
Monodonta
sp.
|
Nerita
sp 2
|
Enigma
sp.
|
Fulgiconus
exiguus bougei
|
|
Cellana
sp.
|
Patella
sp.
|
Cypraea
stercoraria
|
Meretrix
sp.
|
|
|
Lyria
sp.
|
Nerita
sp 2
|
Lyria
sp. 1
|
Ranella
sp.
|
|
|
Ovatella
sp.
|
Enigma
sp.
|
|
Cymatium
dolarium
|
|
|
Trochus
sp.
|
Patella
barbara
|
|
Strombus
sp.
|
|
5.2. Keanekaragaman
Berdasarkan hasil analisi data di
atas menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis Mollusca yang terdapat di Pantai
Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi berbeda antara zona yang satu
dengan yang lain. Keanekaragaman dipengaruhi oleh adanya kemerataan dan
kekayaan. Indek keanekaragaman atau diversitas pada masing-masing zona yang
tertinggi terdapat pada zona batu kecil dengan nilai sebesar 2,018842256 dan yang terendah terdapat pada zona batu lempeng dengan
nilai sebesar 1,64684. Hal ini menunjukkan
bahwa semakin tinggi nilai keanekaragamannya (H’) semakin besar diversitas
spesies dalam komunitas dan kemungkinan ada jumlah spesies yang besar.
Tingginya kenekaragaman jenis
Mollusca pada zona batu kecil didukung oleh adanya kondisi lingkungan abiotik
terukur seperti salinitas, pH, dan suhu yang relatif normal pada zona ini.
Kondisi ini tentunya akan lebih cocok atau sesuai bagi kehidupan Mollusca yang
ada di dalamnya.
Menurut Odum (1993) komunitas
lingkungan yang mantap mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi daripada
komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik
oleh manusia dan alam. Hal ini menunjukkan bahwa zona batu kecil memiliki
komunitas Mollusca yang lebih stabil dibanding zona yang lain.
5.3. Kemerataan
Berdasarkan pada hasil analisis
data tentang kemerataan Mollusca, nilai kemerataan tertinggi adalah 0,864345279
pada zona pasir berlamun. Tingginya nilai kemerataan pada zona tersebut
menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dikatakan heterogen. Adanya perbedaan
kemerataan antar semua zona berarti setiap jenis Mollusca yang ditemukan
memiliki kesesuaian yang berbeda terhadap kondisi lingkungan yang ditempatinya.
Seperti yang dijelaskan oleh Odum (1993) bahwa perbedaan kepadatan jenis
Mollusca antar lokasi menggambarkan kesesuaian jenis Mollusca terhadap kondisi
fisik, kimia pada masing-masing lokasi. Zona dengan kemerataan jenis tertinggi
menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di setiap zona-zona tersebut merupakan
habitat yang cocok bagi kehidupan jenis Mollusca yang bersangkutan.
3.4 Kekayaan
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kekayaan jenis Mollusca yang terdapat di Pantai Pancur Taman Nasional
Alas Purwo Banyuwangi berbeda antara satu dengan yang lain. Kekayaan merupakan
bagian dari adanya keanekaragaman. Indek kekayaan pada masing-masing zona yang
tertinggi terdapat pada zona batu alga dengan nilai sebesar 2,555234 kekayaan yang terendah terdapat pada zona
batu lamun yaitu sebesar 1,954325169.
Tingginya
kekayaan jenis Mollusca pada zona batu alga didukung oleh adanya kondisi
lingkungan abiotik terukur seperti salinitas, pH, dan suhu yang relatif normal
pada zona ini. Kondisi ini tentunya akan lebih cocok atau sesuai bagi kehidupan
Mollusca yang ada di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Nazlim (1999)
bahwa kondisi lingkungan yang cocok atau tidak bagi kehidupan Mollusca akan
terlihat dalam bentuk akhir yaitu mengenai kelimpahan organisme ini dalam hal
kekayaan pada lokasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa zona batu alga
memiliki komunitas Mollusca yang lebih stabil dibanding zona yang lain.
3.5. Pola
Penyebaran
Berdasarkan data dan analisis
data pola penyebaran Molusca pada semua zona menunjukkan bahwa pola
penyebarannya sebagian besar mengelompok, yaitu pada spesies Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp,
Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp.. Hal
ini menunjukkan bahwa individu-individu tersebut cenderung untuk berkelompok
dengan yang lain dan mengimplikasikannya keheterogenan lingkungan.
Sedangkan yang pola penyebarannya
merata dari semua zona yaitu pada spesies, Planaxis
sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus
sp., Monodonta sp., Patella sp., Caminella sp., dan
Nerita sp. Berarti hal ini menunjukkan bahwa
individu berada secara teratur dalam ruang dan menunjukkan bahwa lingkungan
tersebut heterogen (Odum, 1993). Adanya pola pengelompokkan ini secara
keseluruhan disebabkan oleh faktor abiotik. Misalnya: faktor vektorial (angin,
arus air, intensitas cahaya), faktor sosial (tingkah laku), dan faktor
reproduksi (Odum, 1993). Sedangkan pola acak ditemukan pada beberapa spesies
saja, yaitu Chlamys sp., Cymatium dolarium,
Cellana sp., Lyria sp., Ovatella sp., Trochus sp, Mitra
litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp.,
Enigma sp., Cypraea stercoraria, Lyria sp. 1, Meretrix sp., Ranella sp.,
Cymatium dolarium, Strombus sp., Cypraea
stercoraria dan Patella
barbara. Hal
ini mengimplikasikan homogenitasnya lingkungan dan adanya pola-pola tingkah
laku yang non selektif (Odum, 1993).
3.6 Jenis
spesies yang Dominan
Dari semua zona yang ada spesies
yang paling dominan adalah genus Nerita dan genus Patella. Menurut Odum (1993) komunitas lingkungan yang mantap
mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi dari pada komunitas yang dipengaruhi
oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik oleh manusia dan alam. Hal
ini menunjukkan bahwa pada spesies yang ternyata memiliki jumlah yang tinggi
memiliki komunitas Mollusca yang lebih stabil dibanding spesies yang lain.
3.7. Pengaruh
Faktor Lingkungan Abiotik Terukur
Kondisi
lingkungan (faktor abiotik) memegang peranan penting dalam laju pertumbuhan
populasi yang nantinya akan mempengaruhi keanekaragaman, kemerataan dan
kekayaan spesies dalam suatu komunitas tertentu. Pada daerah pasang surut ini,
pasang surut air laut akan sangat berpengaruh terhadap populasi spesies itu.
Dalam keadaan ekstrim saat surut, suatu organisme pada daerah garis pasang naik
pasti sanggup menahan kekeringan dan perubahan temperatur, karena hanya
sebentar saja tersiram atau tertutup air, sebaliknya pada kawasan bawah pasang
surut (subtidal) organisme selalu tertutup air (Odum, 1993). Keadaan ini akan
sangat berpengaruh pada kondisi lingkungan yang dialami oleh organisme
tersebut, seperti perbedaan konsentrasi zat hara, suhu dan salinitas.
BAB
6
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
(1) Jenis-jenis
Mollusca yang ditemukan di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi
ialah Planaxis sulcatus, Nerita undata,
Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp.,
Patella sp., Caminella sp.,
Nerita sp. Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp., Lyria sp., Ovatella sp.,
Trochus sp, Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Conusebraeus sp.,
Monodonta sp., Patella sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria, Lyria sp.
1, Meretrix sp., Ranella sp., Cymatium dolarium, Strombus sp., Cypraea stercoraria dan Patella barbara.
(2) Nilai
keanekaragaman (H’) pada zona batu besar sebesar 1,749366303, pada zona batu kecil sebesar 2,018842256, zona alga sebesar 2,012889,
zona lempeng sebesar 1,64684, sedangkan pada
zona lamun sebesar 1,990229. Dan untuk nilai kemerataan (E), pada
zona batu besar sebesar 0,645987398, pada zona batu kecil sebesar 0,745496614, zona alga sebesar 0,76273, zona lempeng sebesar 0,593972, sedangkan pada zona lamun sebesar 0,864345279. Sedangkan untuk nilai kekayaan (R)
pada zona batu besar sebesar 2,129253006, pada zona batu kecil sebesar 2,463236301, zona alga sebesar 2,555234, zona lempeng sebesar 2,320893, sedangkan pada zona lamun sebesar 1,954325169.
(3)
Indeks Keanekaragaman Shannon dan Wiener (H’) terbesar untuk Mollusca adalah pada zona batu kecil
sebesar 2,018842256, sedangkan nilai keanekaragaman terkecil adalah pada zona batu
berlempeng sebesar 1,64684. Indeks kemerataan untuk mollusca terbesar pada
zona batu lamun sebesar 0,864345279 dan nilai
kemerataan terkecil pada zona batu lempeng sebesar 0,593972. Indeks kekayaan
terbesar untuk mollusca adalah pada zona alga sebesar 2,555234, dan indeks
kekayaan terkecil adalah pada zona lamun dengan nilai 1,954325169. Nilai indeks keanekaragaman dari kelima zona
termasuk dalam keanekaragaman jenis sedang karena masuk dalam kisaran 1 < H` < 3. Hasil indeks keseragaman untuk Mollusca pada semua zona
memiliki keseragaman populasi tinggi karena e > 0,6 kecuali pada zona
batu lempeng yang sedang. Untuk
nilai indeks kekayaan yang didapat dari kelima zona
termasuk kedalam kriteria sedikit kecuali pada batu alga yang tinggi karena
berkisar 2,5-4,0.
(4)
Pola penyebaran Molusca pada semua zona
menunjukkan bahwa pola penyebarannya sebagian besar mengelompok, yaitu pada
spesies Planaxis sulcatus, Nerita undata,
Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp.,
Patella sp.. Sedangkan
yang pola penyebarannya merata dari semua zona yaitu pada spesies, Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp,
Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Caminella sp., dan Nerita sp. Sedangkan
pola acak ditemukan pada beberapa spesies saja, yaitu Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp., Lyria sp.,
Ovatella sp., Trochus sp, Mitra litterata, Fulgiconus exiguus
bougei, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Enigma sp., Cypraea
stercoraria, Lyria sp. 1, Meretrix sp., Ranella sp., Cymatium dolarium, Strombus
sp., Cypraea stercoraria dan Patella
barbara.
(5)
Dari semua zona yang ada spesies yang paling
dominan adalah genus Nerita dan genus
Patella sp.
6.2 Saran
·
Penelitian
mengenai keanekaragaman, kemerataan dan kekayaan Moluska di Pantai Pancur,
Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi lebih dikembangkan lagi karena wilayah
ini berpotensi untuk pengembangan kekayaan laut khususnya untuk daerah Taman
Nasional.
·
Sebelum pengambilan data perlengkapan serta alat
yang dipergunakan harus disiapkan serta diperiksa fungsinya.
·
Dalam melakukan suatu identifikasi data,
hendaknya dilakukan dengan lebih cermat agar diperoleh data yang benar-benar
valid.
·
Jika data yang akan diproses merupakan data
kompilasi, secepatnya kompilasi dilakukan agar tidak terjadi keterlambatan penyusunan
laporan.
·
Dalam melakukan penelitian hendaklah dilakukan
dengan sabar, teliti dan tekun dan dalam penelitian faktor eksternal agar
selalu diperhatikan agar hasil penelitian lebih akurat.
·
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, hendaknya
didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar