Kamis, 04 Mei 2017

LAPORAN KKL MOLLUSCA KELOMPOK 16



PENGAMATAN KOMUNITAS MOLLUSCA
DI PANTAI PANCUR, TAMAN NASIONAL ALAS PURWO
KECAMATAN TEGAL DLIMO, KABUPATEN BANYUWANGI

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Ekologi
Yang Diampu Oleh Bapak Dr. Hadi Suwono, M.Si dan Ibu Dr. Vivi Novianti, M.Si.

Oleh :
Kelompok 16 / Off. A
Aisyatur Robia               (150341600791)
Bidari Intan Rucitra        (150341602763)
Dwi Darmayanti             (150341601390)
Luthfianti Fanani            (150341603019)
Regia Ilmahani               (150341600415)
Ruri Indarti                    (150341600730)
Umar Hanif                    (150341603597)






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2017

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan taufik, hidayah, karunia dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan laporan Kuliah Kerja Lapangan Ekologi di Taman Nasional Alas Purwo dengan tepat waktu. Kami sadar sepenuhnya bahwa terselesainya laporan KKL ini juga tidak lepas dari bantuan pihak pihak lain yang mendukung.
            Kami sampaikan ucapan terimakasih kepada:
1.      Pihak Balai Taman Nasional Alas Purwo yang telah memberikan izin untuk melakukan kegiatan KKL.
2.      Bapak Hadi Suwono dan Ibu Vivi Novianti selaku dosen pembimbing dan dosen pengampu matakuliah Ekologi.
3.      Para Asisten Dosen mata kuliah Ekologi yang telah membimbing jalannya KKl dan dalam pembuatan laporan.
4.      Teman-teman semua yang tidak mungkin disebutkan namanya satu persatu.
Diharapkan dengan adanya laporan KKL ini dapat mempermudah mahasiswa dalam mencari informasi  tentang jenis vegetasi yang ada di Alas Purwo dan komunitas Mollusca yang ada di resort pantai kawasan Alas Purwo. Selain itu dengan adanya laporan ini diharapkan juga dapat memberikan informasi lebih mengenai vegetasi dan komunitas Mollusca yang ada di Taman Nasional Alas Purwo bagi pembaca.
Kami sadar sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu sangat diharapkan adanya kritik dan saran yang membangun bagi laporan ini agar kelak tercipta laporan yang lebih baik lagi.




Malang, 24 April 2017

Penulis,





BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan yang digunakan sebagai kawasan pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian sumber daya alam, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi merupakan salah satu aset Nasional yang secara resmi terpisah dari kawasan Taman Nasional Baluran sejak tahun 1990.  Tempat ini merupakan cagar alam dan suaka margasatwa yang dapat digunakan sebagai media dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian SDA.
Taman Nasional Alas Purwo secara geografis terletak di ujung timur dari Pulau Jawa, tepatnya berada di Kecamatan Tegaldlimo, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Menurut masyarakat sekitar, nama alas purwo memiliki arti hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa. Taman Nasional merupakan perwakilan dari tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa. Ketinggiannya berada pada kisaran 0-322 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan topografi datar, bergelombang ringan, dengan puncak tertinggi di Gunung Lingga Manis (322 meter dpl). Berdasarkan ekosistemnya, tipe-tipe hutan di Taman Nasional Alas Purwo dapat dibagi menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan/savana (feeding ground). Jika diamati dari luas lahan sekitar 43.420 hektar, taman nasional ini didominasi oleh hutan bambu yang menempati areal sekitar 40% dari seluruh area yang ada (Vicky, 2010).
Taman Nasional Alas Purwo juga memiliki kekayaan laut yang melimpah. Di kawasan Alas Purwo terdapat beberapa pantai yang mana keragaman hewan yang hidup di sana cukup tinggi. Pantai yang dapat ditemui di kawasan Taman Nasional Alas Purwo ini antara lain Pantai Triangulasi, Pantai Ngagelan, Pantai Pancur, serta Pantai Plekung. Ekosistem hewan-hewan yang ada pada pantai ini masih terjaga dan asri, sehingga lokasi ini sering dijadikan sebagai kegiatan penelitian yang dilakukan oleh berbagai kalangan.
Menurut Dharmawan (2004) ekosistem lahan basah di Alas Purwo terdiri dari hutan mangrove dan hutan perairan laguna, yang secara fungsional kedua ekosistem ini saling berinteraksi. Hutan mangrove pada dasarnya adalah suatu kawasan yang terletak menyebar di sepanjang garis pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air. Komponen abiotik dan biotik di hutan mangrove tersebut saling berinteraksi membentuk suatu mangrove.
Ekosistem mangrove yang identik dengan ekosistem perairan akan sangat mempengaruhi keanekaragaman jenis-jenis hewan lautnya. Hutan mangrove pada prinsipnya berfungsi sebagai tempat asuhan (nusery ground) bagi berbagai jenis hewan akuatik yang beranekaragam, seperti ikan, udang, dan berbagai jenis hewan mollusca. Hutan mangrove di Indonesia terdapat 88 jenis Crustaceae dan 65 jenis Mollusca (Nontji, 1987).
Daerah pasang surut tidak luput dari pengaruh komponen-komponen yang ada dalam hutan mangrove. Di daerah pasang surut ini secara langsung ataupun tidak langsung akan saling berinteraksi dengan komponen-komponen yang ada dalam hutan mangrove baik berbagai komponen biotik maupun abiotiknya. Berbagai komponen biotik tersebut akan saling berinteraksi membentuk suatu populasi. Berbagai komponen biotik dan abiotik di daerah pasang surut akan membentuk suatu rangkaian proses dekomposisi melalui suatu rantai makanan yang hasilnya merupakan makanan bagi komponen biotik laguna, yaitu berbagai jenis Mollusca, decapoda, dan berbagai mikroba. Rangkaian proses tersebut dapat diketahui dari kepadatan organisme yang terdapat di tempat tersebut, dan merupakan indikator dalam memprediksi adanya unsur hara yang terkandung di dalamnya (Odum, 1993).
Mollusca merupakan hewan lunak yang diamati dalam penelitian komunitas di perairan laguna kawasan Alas Purwo. Ciri-ciri Mollusca secara umum adalah tubuh lunak dan tidak berbuku-buku biasanya tubuh bercangkang dari zat kapur, hewan ini ada yang hidup di darat, di air tawar dan ada pula yang hidup di laut, tubuh simetri bilateral, jenis kelamin umumnya terpisah, tetapi dapat juga hermaprodit, cangkang dibentuk oleh mantel, badan terdiri dari kepala, kaki dan massa jerohan, kaki termodifikasi untuk merayap, berenang bahkan untuk menangkap makanan (Kastawi, 2005).
Pantai yang dapat diteliti indeks keragaman, kemerataan dan kekayaan Mollusca adalah pantai Pancur. Pantai tersebut terletak 8 km ke arah utara dari pintu masuk kawasa Alas Purwo. Di pantai ini indeks keragaman, kemerataan dan kekayaannnya Molluscaa masih cukup tinggi dan berbeda pada setiap zona yang ada (Andreas, 2008). 
Mollusca termasuk salah satu hewan yang terdapat di daerah tepi pantai, berdasarkan habitatnya mollusca memiliki rentangan habitat yang cukup lebar mulai dari dasar laut sampai garis panjang  surut tertinggi. Sehingga mollusca banyak ditemukan di Pantai Pancur. Oleh karena itu ditulislah laporan yang berjudul “Pengamatan Komunitas Mollusca di Pantai Pancur, Taman Nasional Alas Purwo Kecamatan Tegal Dlimo, Kabupaten Banyuwangi” untuk mengamati keanekaragaman Mollusca di kawasan pantai Pancur, Alas Purwo.

1.2  Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang yang telah dipaparkan, dapat diambil beberapa rumusan masalah yakni sebagai berikut.
1.      Bagaimana jenis-jenis Mollusca yang dapat ditemukan di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi?
2.      Bagaimana indeks keanekaragaman (H), kemerataan (E), kekayaan (R), dan dominansi (D) jenis dari Mollusca yang ditemukan di daerah Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo?
3.      Bagaimana jenis Mollusca yang dominan pada tiap zona di kawasan Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi?
4.      Bagaimana perbandingan H, E, R, D Mollusca dari tiap zona yang ditentukan di daerah Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo?
5.      Bagaimana distribusi jenis Mollusca di kawasan Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi?
6.      Bagaimana pengaruh faktor abiotik terhadap nilai H,E,R, D Mollusca yang ditemukan di daerah Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo?

1.3  Tujuan
Dalam praktikum kali ini bertujuan untuk :
1.      Untuk mengetahui jenis-jenis Mollusca yang dapat ditemukan di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
2.      Untuk mengetahui indeks keanekaragaman (H), kemerataan (E), kekayaan (R), dan dominansi (D) jenis dari Mollusca yang ditemukan di daerah Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo.
3.      Untuk mengetahui jenis Mollusca yang dominan pada tiap zona di kawasan Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
4.      Untuk membandingkan H, E, R, D Mollusca dari tiap zona yang ditentukan di daerah Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo.
5.      Untuk mengetahui distribusi jenis Mollusca di kawasan Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
6.      Untuk mengetahui pengaruh faktor abiotik terhadap nilai H,E,R, D Mollusca yang ditemukan di daerah Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo.


1.4  Ruang Lingkup
1.      Teknik pengambilan data mengggunakan metode transek.
2.      Spesies yang diamati adalah anggota filum Molusca.
3.      Sampel spesies yang diambil, dimasukkan kedalam botol plakon.

1.5  Definisi Operasional
1.      Mollusca adalah filum dari hewan yang bertubuh lunak tidak beruas dan tubuh dilindungi oleh satu atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur (CaCO3), namun ada pula yang tidak memiliki cangkang. (Sri Endah, 2016).
2.      Keanekaragaman adalah tingkat jumlah individu (spesies yang ada) dalam suatu tempat dan kondisi.
3.      Kemerataan adalah tingkat penyebaran suatu individu di berbagai tempat yang berbeda.
4.      Kekayaan adalah banyaknya suatu individu dal suatu wilayah.
5.      Dominasi adalah spesies yang paling dominan dalam suatu tempat.




















BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
            Mollusca berasal dari bahasa Romawi milos yang berarti lunak. Jenis Mollusca yang umumnya dikenal siput, kerang dan cumi-cumi. Kebanyakan dijumpai di laut dangkal sampai kedalaman mencapai 7000 m, beberapa di air payau, air tawar, dan darat. Anggota dari Filum Mollusca mempunyai bentuk tubuh yang sangat berbeda dan beranekaragam, dari bentuk silindris, seperti cacing dan tidak mempunyai kaki maupun cangkang, sampai bentuk hampir bulat tanpa kepala dan tertutup kedua keping cangkang besar, cangkang terbuat dari zat kapur atau kitin. Tubuh tidak bersegmen kecuali pada Monoplacophora, dinding tubuh tebal dan berotot, saluran pencernaan berkembang dengan baik, memiliki sistem peredaran darah dan jantung.. Oleh karena itu berdasarkan bentuk tubuh, bentuk dan jumlah cangkang, serta beberapa sifat lainnya, filum Mollusca dibagi menjadi 8 kelas, yaitu: 1). Chaetodermomorpha; 2). Neomeniomorpha; 3). Monoplacophora; 4). Polyplacophora; 5). Gastropoda; 6). Pelecypoda; 7). Scaphopoda; dan 8). Cephalopoda (Kastawi, 2005).
Ciri-ciri umum yang dimiliki anggota Mollusca memiliki ciri tubuh Tubuh tidak bersegmen. Simetri bilateral, Tubuhnya terdiri dari "kaki" muskular, dengan kepala yang berkembang beragam menurut kelasnya. Kaki dipakai dalam beradaptasi untuk bertahan di substrat, menggali dan membor substrat, atau melakukan pergerakan. Ukuran dan bentuk tubuh Ukuran dan bentuk tubuh moluska sangat bervariasi. Misalnya, siput yang panjangnya hanya beberapa milimeter dengan bentuk bulat telur. Namun, ada juga cumi-cumi raksasa dengan bentuk torpedo bersayap yang panjangnya 17-18m. Strukur dan fungsi tubuh tubuh hewan ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kaki, badan, dan mantel. Kaki merupakan penjulur bagian ventral tubuhnya yang berotot, berfungsi untuk bergerak merayap atau menggali. Pada beberapa mollusca kakinya ada yang termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Sedangkan massa viseral adalah bagian tubuh mollusca yang lunak dan merupakan kumpulan sebagaian besar organ tubuh seperti pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Mantel membentuk rongga mantel yang berisi cairan yang dapat mengekskresikan bahan penyusun cangkang pada Mollusca bercangkang. Pada rongga mantel ini terdapat lubang insang, lubang ekskresi, dan anus. Sistem pencernaan mollusca lengkap terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus. Pada Mollusca tertentu ada yang memiliki rahang dan lidah bergigi yang melengkung kebelakang yang disebut radula, berfungsi untuk melumat makanan (Kastawi, 2005).

Gastropoda berasal dari kata gastros : perut; podos : kaki. Jadi Gastropoda berarti hewan yang berjalan dengan perutnya. Hewan anggota kelas Gastropoda umumnya bercangkang tunggal yang terpilin membentuk spiral dengan bentuk dan warna yang beragam. Kelas Gastropoda merupakan kelas terbesar dari Mollusca lebih dari 75.000 spesies yang telah teridentifikasi, dan 15.000 diantaranya dapat dilihat bentuk fosilnya. Ditemukannya Gastropoda di berbagai macam habitat, seperti di darat dan di laut. Maka dapat disimpulkan bahwa Gastropoda merupakan kelas yang paling sukses di antara kelas yang lain (Kastawi, 2005).

2.2.1.      Morfologi
Morfologi Gastropoda terwujud dalam morfologi cangkangnya. Sebagian besar cangkangnya terbuat dari bahan kalsium karbonat yang di bagian luarnya dilapisi periostrakum dan zat tanduk. Cangkang Gastropoda yang berputar ke arah belakang searah dengan jarum jam disebut dekstral, sebaliknya bila cangkangnya berputar berlawanan arah dengan jarum jam disebut sinistral. Siput-siput Gastropoda yang hidup di laut umumnya berbentuk dekstral dan sedikit sekali ditemukan dalam bentuk sinistral. Struktur umum morfologi Gastropoda terdiri atas: posterior, sutures, whorl, spiral sculptures, axial, longitudinal, sculpture, posterior canal, aperture, operculum, plaits on columella, outer lip, columella, anterior canal (Kastawi, 2005).

2.2.2        Anatomi
Struktur anatomi Gastropoda dapat dilihat pada susunan tubuh gastropoda yang terdiri atas: kepala, badan, dan alat gerak .Kepala berkembang dengan baik, dilengkapi dua pasang tentakel sebagai alat peraba. Sepasang di antaranya bersifat retraktil dan dilengkapi sebuah mata. Mulut dilengkapi dengan lidah perut dan gigi radula. Berdasarkan tipenya, gigi radula pada Gastropoda dapat dibedakan menjadi 5 tipe yaitu: tipe rhipidoglossate, docoglossate, taenioglossate, rachiglossate, dan toxoglossate . Alat-alat yang penting di dalam badan hewan Gastropoda untuk hidupnya diantaranya ialah alat pencernaan, alat pernafasan serta alat genitalis untuk pembiakannnya. Saluran pencernaan terdiri atas: mulut, pharynx yang berotot, kerongkongan, lambung, usus, anus. Kaki pada hewan Gastropoda memiliki bentuk yang lebar dan pipih. Bagi yang bercangkang, terputar 180° terhadap kepala dan kaki. Kaki dapat mengeluarkan lendir untuk memudahkan pergerakan (Romimohtarto, 2001).

2.2.3        Cangkang
Cangkang siput digunakan untuk melindungi diri. Ada yang tanpa penutup dan ada yang dengan penutup atau operculum (operculum). Operkulum ini terbuat dari zat kapur atau zat tanduk yang lebih luas. Operkulum menunjukkan garis-garis pertumbuhan dan kadang-kadang dapat digunakan untuk menentukan umur. Bentuk cangkang setiap jenis berbeda dan mensifati jenis itu. Bentuk cangkang juga dapat dikaitkan dengan pola habitatnya (Romimohtarto, 2001).
Cangkang gastropoda terdiri dari 4 lapisan. Tipe cangkang gastropoda terdiri dari 17 tipe yaitu: tipe conical, biconical, obconical, turreted, fusiform, patelliform, spherical, ovoid, discoidal, involute, globose, lenticular, obovatus, bulloid, turbinate, cylindrical dan trochoid. Hal yang perlu diperhatikan dalam mengamati dan menggambar cangkang yaitu: ukuran cangkang, arah putaran cangkang, jumlah putaran cangkang, dan ada tidaknya operkulum (Kastawi, 2005).

2.2.4.      Pertumbuhan
Pertumbuhan dari siput dan kerang terjadi jauh lebih cepat diwaktu umurnya masih muda dibandingkan dengan siput yang sudah dewasa. Ada siput yang tumbuh terus sepanjang hidupnya, tetapi ada pula yang pertumbuhannya terhenti setelah dewasa . Karena proses pertumbuhan siput muda cepat, maka jenis yang muda jauh lebih sedikit ditemukan dibandingkan dengan yang dewasa. Umur siput sangat bervariasi, ada beberapa jenis siput darat yang dapat berkembang biak secara singkat dan dapat mengeluarkan telur-telurnya dua minggu setelah menetas, tetapi ada juga yang berumur sangat panjang sampai puluhan tahun. Menurut para ahli, umur siput dapat diperkirakan dengan melihat alur-alur pada bagian tepi luar cangkang (Kastawi, 2005).

2.3.      Klasifikasi
Menurut Sri Endah (2016), Mollusca diklasifikasikan menjadi tujuh kelas.
1.      Aplacophora
-          Dalam bahasa Yunani, “a” : tanpa, “plax” : lempengan.
-          Tidak memiliki cangkang.
-          Tubuh berbentuk seperti cacing.
-          Ukuran tubuh 5 mm -2,5 cm.
-          Tubuh memiliki sisik kalkareus dan spikula sebagai pengganti cangkang.
-          Habitat lautan kedalaman 7000m atau 200-3000m.
-          Cara hidup berjalan perlahan di dasar laut atau melilit pada hydrozoa atau karang lunak sebagai makanannya.
-          Memiliki kebiasaan menggali sehingga kaki mengalami reduksi, spesies lain ada yang memiliki lekukan pertengahanb ventral tubuhnya untuk berjalan.
-          Pada umumnya hermafrodit.
2.      Monoplcophora
-          Memiliki sebuah cangkang yang simetri bilateral memiliki 3-8 etraktor kaki.
-          Bentuk cangkang bervariasi ada yang kerucur, lempeng pipih dan perisai. Ujung apeks cangkang melengkung ke anterior .
-          Hewan ini berkelamin terpisah atau diosious dimana dimana dua pasang gonad terletak pada pertengahan tubuh.
-          Fertilisasi terjadi secara eksternal.
-          Panjang tubuh 3mm-3cm.
3.      Polyplacophora
-          Memiliki banyak cangkang.
-          Ukuran 3 mm-40 cm.
-          Bentuk cangkang oval. Tubuh pipih dorsovntral.
-          Di bagian dorsal tubuh dilindungi delapan keping cangkang yang tersusun tumpang tindih.
-          Cangkang tersusun atas dua lapian yaitu tegmentum dan artikulamentum. Tegmentum merupakan lapisan terluar dan artikulamentum merupakan lapisan terdalam.
-          Tepi setiap keping cangkang ditutupi jaringan mantel dimana luas sempitnya penutupan berbeda pada tiap spesies.
-          Pada cangkang terdapat sejumlah penonjolan yang membawa organ sensori atau esthete. Fungsi esthete sebagai reseptor taktil dan visual yang sederhana.
-          Pergerakan menggunakan kaki yang berada di permukaan ventral tubuh.
-          Diosious atau kelamin terpisah.
-          Fertilisasi eksternal, dimana telur atau sperma di ligkungannya dihubungkan melalui gonofor.
-          Telur yang telah dibuahi menjadi larva trokofor dan tidak memiliki fase larva veliger.\


4.      Scaphopoda
             Hewan yang tergolong scphopoda memiliki cangkang berbentuk tabung silinder panjang seperti gading gajah dan kedua ujungnya terbuka. Berdasarkan bentuk cangkangnya populer disebut siput gading atau molusca bercangkang gigi. Jumlah spesies sekitar 350 yang semuanya bersifat penggali/membenamkan diri di pasir pada kedalaman air lebih dari 6 m. Rerata panjang cangkang 3 sampai 6 cm, namun Dentalium vernedei di pantai jepang merupakan sspesies terbesar dengan panjang tubuh mencapai 15 cm (Sri Endah, 2016).
             Bagian anterior cangkang ditemukan kepala dan kaki. Di daerah kepala terdapat tentakel berkepala dan bersilium (disebut captacula) bersifat sensoris dan prehensil berfungsi menangkap makanan. Bagian yang berlawanan dengan anterior tubuh merupakan posterior tubuh sebagai tempat penghisapan dan pengeluaran air. Air masuk kedalam tubuh dan keluar kembali melalui lubang posterior. Hewan tidak memiliki insang sehingga pertukaran gas melalui permukaan mantel. Cangkang sedikit melengkung, dan daerah konkaf cangkang merupakan bagian dorsal. Scaphpoda beersifat diosius. Fertilisasi terjadi secara eksternal. Telur yang dibuahi akan berkembang menjadi larva trokhopor kemudian menjadi larva veliger (Sri Endah, 2016).
5.      Gastropoda
             Gastropoda merupakan kelas terbesar dengan anggotanya yang masih hidup sekitar 30.000 spesies dan 15.000 spesies telah menjadi fosil. Anggota kelas ini meliput keong darat, siput dan limpet. Hewan gastropoda  yang hidup di air bernafas dengan menggunakan insang, namun pada spesies yang hidup di air tawar atau di habitan terestrial insang mengalami modifikasi menjadi “paru-paru”. Gastropoda yang memiliki paru-paru tersebut termasuk kelompok pulmonata. Banyak anggota Pulmonata yang hidup di air tawar sehingga secara periodik hewan pergi ke permukaan air untuk bernafas (Sri Endah, 2016).
6.      Pelecypoda
          Pelecypoda disebut juga  dengan Bivalvia atau Lamellibrankhiata. Kata pelecypoda memiliki arti kaki berbentuk kapak. Kata Bivalvia berarti memiliki dua cangkang dengan engsel terletak di bagian dorsal.sedangkan kata Lamillibrankhiata dikarenakan insangnya berbentuk lembaran-lembaran. Pada beberapa spesies memiliki insang yang berukuran sangat besar, sehingga memiliki fungsi tambahan sebagai pengumpul makanan selain sebagai tempat pertukaran gas. kepala tidak berkembang namun sepasang palpus labialis mengapit mulutnya. Tubuh bilateral simetris dan memiliki kebiasaan menggali liang pada pasir atau lumpur menggunakan kakinya (Sri Endah, 2016).
7.      Cephalopoda
            Cephalopoda memiliki arti kaki bergabung dengan kepala dalam bentuk tangan, tentakel, dan atau sifon. Cara bargerak dengan menyemprotkan air melalui sifon, sedaangkan tentakel dan tangan digunakan untuk mencari makan. Dibandingkan dengan anggota filum molusca lainnya, ceohalopoda teradaptasi dengan kebiasaan berenang. Hewan cephalopoda umumnya memiliki panjang 6 sampai 70 cm termasuk tangan dan tentakel. Namun pada cumi-cumi architeutis panjang tubuh sampai 16 m san lingkar badan 4 m (Sri Endah, 2016).
            Anggota cephalopoda yamg masih hidup diperkirakan 600 spesies. Kelas cephalopoda dibedakan menjadi 2 subkelas berdasarkan jumlah dan bentuk tentakel. Kedua subkelas tersebut yaitu coleidea dan nautiloidea. Subkelas coleidea terdiri atas cumi-cumi, sotong dan oktopus yang semuanya memiliki 8  tangan dengan batil isap pada permukaan dalam tangan. Cumi-cumi dan sotong memiliki tambahan 2 tentakel. Sedangkan subkelas nautiloidea contohnya genus nautilus memiliki lebih dari 90 tentakel tampa batil isap dan setiap tentakel dapat di tarik masuk kedalam sarungnya. Cangkang melingkar terbuat dari zat kapur dan terbagi oleh sekat transversal menjadi kamar-kamar. Antara kamar yang saatu dengan yang lainnya dihubungkan oleh sifunkulus (Sri Endah, 2016).

2.4.      Peranan
Peranan moluska yang menguntungkan yaitu :
1.            Sumber makanan berprotein tinggi, misalnya tiram batu (Aemaea sp.), kerang (Anadara sp.), kerang hijau (Mytilus viridis), Tridacna sp., sotong (Sepia sp.) cumi-cumi (Loligo sp.), remis (Corbicula javanica), dan bekicot (Achatina fulica) (Sri Endah, 2016).
2.            Perhiasan, misalnya tiram mutiara (Pinctada margaritifera). • Hiasan dan kancing, misalnya dari cangkang tiram batu, Nautilus, dan tiram mutiara (Sri Endah, 2016).
3.            Bahan baku teraso, misalnya cangkang Tridacna sp. Merugikan Bekicot dan keong sawah yang merupakan hama dari tanaman. Siput air adalah perantara cacing Fasciola hepatica (Sri Endah, 2016).
Penyebaran hewan Mollusca sangat luas dan umumnya memiliki kesamaan pola dasar tubuh. Mollusca adalah salah satu jenis organisme yang memiliki rentangan habitat yang cukup lebar mulai dari dasar laut sampai garis pasang surut tertinggi. Selain itu ada yang hidup di air tawar bahkan terkadang ditemukan di habitat terestrial, khususnya yang memiliki kelembaban tinggi. Sifat hidup Mollusca bervariasi, ada yang hidup bebas namun beberapa spesies lainnya bersifat parasit pada organisme lain (Nontji, 1987).
            Mollusca memiliki kapasitas adaptasi yang tinggi sehingga penyebarannya sangat luas, baik di darat maupun di perairan, mulai dari perairan yang dangkal termasuk pantai, estuaria adalah perairan tawar sampai kedalaman laut yang tidak dapat ditembus cahaya matahari. Keberadaan hewan Mollusca ini tergantung pada variasi faktor lingkungan habitatnya. Lingkungan pantai selalu berubah–ubah karena pasang surut sehingga banyak ditemukan variasi kehidupan dalam jumlah spesies maupun organismenya (Nontji, 1987).
Mollusca ini banyak terdapat di lumpur, pasir, dan di danau. Dimana pada lumpur, pasir, dan danau ini banyak mengakumulasi bahan organik yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan. Mollusca ini biasanya menguburkan diri dan pada saat tertentu mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain, hal ini berkaitan dengan adaptasi untuk mendapatkan makanan guna melangsungkan hidupnya dan juga untuk menghindari diri dari predator. Mollusca ini dapat hidup pada suhu yang berkisar antara 0-40 karena pada suhu itu hewan mampu hidup aktif, sedangkan untuk pH 4.5-5, dan untuk kelembaban serta salinitas hewan ini dapat hidup pada kondisi yang normal (Yuniarti, 2012).

2.5.            Indeks Keanekaragaman, Kemerataan dan Dominansi
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiever (H’)
Indeks keanekaragaman dapat digunakan untuk mencirikan hubungan kelompok genus dalam komunitas. Indeks keanekaragaman yang dipergunakan adalah indeks Shannon Wiever
H’ = -∑ (pi ln pi);
Pi =
Keterangan :
H’ = indeks keanekaragaman Shannon-Wiener
N = Jumlah total individu semua jenis dalam komunitas
Ni = jumlah individu jenis ke 1
Pi = kelimpahan proporsional
Menurut Wilhm and Dorris (1986), kriteria indeks keanekaragaman dibagi dalam 3 kategori yaitu :
H` < 1 : Keanekaragaman jenis rendah
1 < H` < 3 : Keanekaragaman jenis sedang
H` > 3 : Keanekaragaman jenis tinggi
Indeks Keseragaman Evenness (E)
Untuk mengetahui keseimbangan komunitas digunakan indeks keseragaman, yaitu ukuran kesamaan jumlah individu antar spesies dalam suatu komunitas. Semakin mirip jumlah individu antar spesies (semakin merata penyebarannya) maka semakin besar derajat keseimbangan (Wilhm and Dorris, 1986).
E =
Keterangan :
S = jumlah keanekaragaman
Dengan kisaran sebagai berikut :
e < 0,4 : Keseragaman populasi kecil
0,4 < e < 0,6 : Keseragaman populasi sedang
e > 0,6 : Keseragaman populasi tinggi
Semakin kecil nilai indeks keanekaragaman (H’) maka indeks keseragaman (e) juga akan
semakin kecil, yang mengisyaratkan adanya dominansi suatu spesies terhadap spesies lain.
Riches/Kekayaan (R)
R =
Keterangan :
N = jumlah individu
Dominansi
Dominansi adalah jenis individu yang paling banyak jumlahnya. Dominansi merupakan pengendalian nisbi yang diterapkan makhluk atas komposisi spesies dalam komunitas. Derajat dominansi terpusat di dalam satu, beberapa atau banyak spesies dapat dinyatakan dengan indeks dominansi, yaitu jumlah kepentingan tiap-tiap spesies dalam hubungan dengan komunitas secara keseluruhan (Wilhm and Dorris, 1986).

Ekosistem atau sistem ekologis terdiri atas berbagai macam komunitas dalam suatu daerah geografis besar. Istilah ekosistem telah diperkenalkan oleh Tansley pada tahun 1935, dan ide ekosistem digunakan untuk menjelaskan hubungan antara komunitas biotik dengan berbagai faktor fisika dan kimia lingkungan. Konsep ekosistem memberikan suatu model lingkungan untuk mengevaluasi kerja dari berbagai sistem biologis pada suatu skala besar (Brahmana, 2001). Pantai merupakan daerah yang mempunyai kedalaman kurang dari 200meter.
Pada pantai terdapat daerah litoral yaitu daerah yang berada diantara pasang tertinggi dan air surut terendah atau disebut daerah intertidal. Adanya nutrien di dalam air dan arus serta didukung oleh faktor kimia dan fisika menjadikan pantai sebagai perairan yang kaya keanekaragaman jenis. Suhu dan salinitas merupakan parameter-parameter fisik yang penting untuk kehidupan organisme di perairan pantai. Kisaran suhu untuk hidup aktif organisme pantai adalah 0 sampai 35°C (Nybaken, 1992).
Perairan pantai dapat di bedakan menjadi beberapa Zona yaitu : zona batu lempeng, zona batu besar, zona batu kecil, zona batu beralga, dan zona batu berpasir. Zona-zona tersebut termasuk ke dalam zona lithoral yang merupakan wilayah pantai atau pesisir, pada wilayah ini saat air pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan sehingga wilayah ini sering disebut wilayah pasang surut (Nybaken, 1992).

Faktor Abiotik Yang Mempengaruhi Keberagaman Organisme Di Zona Intertidal yaitu suhu, substrat, salinitas, pH, kelembaban,  aksi ombak dan arus. Sedangkan Faktor Biotik Yang Mempengaruhi Keberagaman Organisme Di Zona Intertidal :
1.      Potensial biotik pada fase-fase tertentu selalu akan mengalami hambatan oleh berbagai macam persaingan yang antara lain berupa persaingan (kompetisi), predasi, penyakit, sumber daya makanan (Odum, 1993).
2.      Adanya interaksi yang bersifat persaingan sering melibatkan ruangan, unsur hara, bahan-bahan buangan atau sisa penyakit dan sebagainya dan banyak tipe interaksi timbal balik bersama (Odum, 1993).
3.      Dominansi hewan pantai yang menguasai ruang tertentu, suatu saat akan diambil alih oleh spesies yang lain karena adanya predator hewan, dominan yang pertama. Sehingga secara efektif predator akan mencegah dan mengurangi, mendominasikan pertama yang menempati seluruh ruang (Odum, 1993).
Suhu merupakan faktor yang banyak mendapat perhatian dalam pengkajian kelautan. Suhu merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan dan distribusi makhluk hidup (Odum, 1993). Suhu mempengaruhi proses metabolisme dan biokimia seperti aktivitaas enzim dan konsumsi oksigen, pertumbuhan dan reproduksi serta morfologi seperti bentuk cangkang Mytilus edulis (Yuniarti, 2012).
Suhu air pada kisaran 27-310 C juga dianggap cukup layak untuk kehidupan mollusca seperti tiram mutiara. Menurut Brahmana (2001) Seluruh spesies yang hidup dalam lingkungan laut, terbatas pada satu kisaran sempit dari suhu. Beberapa spesies dapat bertahan hidup dalam waktu tertentu dengan temperatur rendah, biasanya pada satu tingkat tidak aktif, tetapi beberapa spesies alga hijau biru dan bakteri dapat beradaptasi pada temperatur lingkungan ekstrim ±90°C. Adanya variasi temperature dalam harian atau variasi musimaan sangat mempengaruhi metabolisme dan aktivitas spesies. Kebanyakan spesies dapat betahan hidup dalam temperatur turun daripada temperatur naik, dengan perubahan temperature yang sama (misal temperature turun 10°C, lebih tahan daripada temperatur naik 10°C).

























BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
            Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan dengan cara mengamati secara langsung sampel berupa Mollusca di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi
3.2 Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 2014, pukul 08.00-12.00 WIB
·         Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Pantai Pancur Alas Purwo Banyuwangi, Jawa Timur
·         Identifikasi Spesies dilakukan di penginapan triangulasi Alas Purwo Banyuwangi, Jawa Timur
3.3 Populasi dan Sampel
1.      Objek yang diteliti adalah semua Mollusca subkelas Gastropoda dan Bivalvia yang ada di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi
2.      Sampel yang idamati adalah kenis Mollusca yang ada dalam 5 zona amatan yaitu zona batu besar, zona batu kecil, zona batu beralga, zoa batu lempeng dan zona batu berlamun
3.4 Alat dan Bahan
·         Alat yang dipakai dalam pengamatan mollusca antara lain :
-          Roll meter
-          Kuadran 1x1 meter
-          Penjepit
-          Plakon                 
-          Tali rafia              
-          pH meter             
-          Spidol marker      
-          Kaleng                 
-          DO meter
-          Hand refractometer
-          Multiparameter
·         Sedangkan Bahan yang digunakan antara lain :
-            Kantong plastik
-            Botol plakon
-            Formalin 4%
-            Aquades
-            Alkohol 70%
-            Kertas label
3.5  Prosedur Kerja
Langkah pertama yaitu melakukan persiapan menuju lokasi pengamatan sebagai berikut:
1.      Menyiapkan alat yang di perlukan pada saat praktikum
2.      Mendengarkan intruksi dan arahan dari asisten atau dosen pendamping
Langkah kedua yaitu menentuan lokasi pengambilan sampel dengan langkah sebagai berikut :
1.      Berjalan ke lokasi pengambilan sampel secara berkelompok dengan didampingi oleh asisten pendamping.
2.      Memasuki pantai dan membuat plot berukuran 1x1 m sebanyak tiga kali ulangan pada 5 zona.
3.      Meletakkan transek pada zona yang akan diamati (zona batu lempeng, zona batu besar, zona batu kecil, zona batu beralga, dan zona batu berpasir)
Langkah yang ketiga yaitu cara pengambilan sampel dengan langkah sebagai berikut:
1.      Mengambil sampel pada tiap plot dengan mencatat tiap jenis Mollusca yang ditemukan dan dihitung jumlahnya;
2.      Untuk keperluan identifikasi diambil satu spesies dan dimasukkan ke dalam botol plakon dan kemudian diberi nama;
Langkah yang keempat yaitu pengukuran abiotik dengan langkah sebagai berikut :
1.      Mengukur faktor abiotiknya, yaitu salinitas air dengan menggunakan pH meter untuk mengukur keasaman air laut.
Langkah yang kelima yaitu perawatan spesimen yang telah diambil sebagai berikut :
1.      Mengumpulkan semua sampel yang ditemukan,
2.      Membersihkan sampel yang ditemukan,
3.      Memasukkan sampel yang ditemukan  ke dalam botol  yang telah berisi alkohol dan ditutup rapat
4.      Mengabadikan sampel tersebut,
5.      Mengidentifikasi sampel yang didapat dan menyusun klasifikasinya.

Langkah yang terakhir yaitu pembuatan hasil laporan
1.      Mengidentifikasi spesies yang sudah ditemukan.
2.      Mengadakan kompilasi data dan membuat laporan hasil penelitian.

3.6  Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara langsung menuju ke lokasi pengamatan yakni di Pantai Pancur kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Kemudian dilakukan penentuan lokasi menjadi 5 zona yakni zona batu lempeng, zona batu besar, zona batu kecil, zona batu beralga, dan zona batu berpasir yang pada setiap kelompok akan mengamati pada satu zona dengan tiga ulangan. Sehingga jika ada 5 kelompok dalam 1 zona maka akan diperoleh 15 ulangan untuk 1 zona yang diamati. Kemudian pengambilan sampel dilakukan setiap spesies 1 sampel saja hal ini ditujukan agar kelestarian Mollusca yang ada tetap terjaga. Selanjutnya spesimen yang ada diamati dan diidentifikasi di penginapan, selanjutnya akan dicocokkan dengan literatur di Gedung O5 Biologi FMIPA UM.
3.7  Teknik Analisis Data
3.8  Indeks Keanekaragaman, Kemerataan dan Dominansi
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiever (H’)
Indeks keanekaragaman dapat digunakan untuk mencirikan hubungan kelompok genus dalam komunitas. Indeks keanekaragaman yang dipergunakan adalah indeks Shannon Wiever
H’ = -∑ (pi ln pi);
Pi =
Keterangan :
H’ = indeks keanekaragaman Shannon-Wiener
N = Jumlah total individu semua jenis dalam komunitas
Ni = jumlah individu jenis ke 1
Pi = kelimpahan proporsional
Menurut Wilhm and Dorris (1986), kriteria indeks keanekaragaman dibagi dalam 3 kategori yaitu :
H` < 1 : Keanekaragaman jenis rendah
1 < H` < 3 : Keanekaragaman jenis sedang
H` > 3 : Keanekaragaman jenis tinggi
Indeks Keseragaman Evenness (E)
Untuk mengetahui keseimbangan komunitas digunakan indeks keseragaman, yaitu ukuran kesamaan jumlah individu antar spesies dalam suatu komunitas. Semakin mirip jumlah individu antar spesies (semakin merata penyebarannya) maka semakin besar derajat keseimbangan (Wilhm and Dorris, 1986).
E =
Keterangan :
S = jumlah keanekaragaman
Dengan kisaran sebagai berikut :
e < 0,4 : Keseragaman populasi kecil
0,4 < e < 0,6 : Keseragaman populasi sedang
e > 0,6 : Keseragaman populasi tinggi
Semakin kecil nilai indeks keanekaragaman (H’) maka indeks keseragaman (e) juga akan
semakin kecil, yang mengisyaratkan adanya dominansi suatu spesies terhadap spesies lain.
Riches/Kekayaan (R)
R =
Keterangan :
N = jumlah individu
Dominansi
Dominansi adalah jenis individu yang paling banyak jumlahnya. Dominansi merupakan pengendalian nisbi yang diterapkan makhluk atas komposisi spesies dalam komunitas. Derajat dominansi terpusat di dalam satu, beberapa atau banyak spesies dapat dinyatakan dengan indeks dominansi, yaitu jumlah kepentingan tiap-tiap spesies dalam hubungan dengan komunitas secara keseluruhan (Wilhm and Dorris, 1986).












BAB 4
DATA DAN ANALISIS DATA
4.1 Data Pengamatan
Data yang dipaparkan berikut merupakan data yang telah dikompilasi dan telah dihitung satu angkatan. Dari hasil didapatkan dari pengambila sampel, didapatkan data per zona sebagai berikut :
Tabel 4.1.1. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Besar
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Planaxis sulcatus
28
2.
Nerita undata
219
3.
Hexaplex sp
30
4.
Nerita planospira
236
5.
Nertita sp 1
128
6.
Conusebraeus sp.
19
7.
Monodonta sp.
15
8.
Patella sp.
10
9.
Nerita sp 2
7
10.
Chlamys sp.
3
11.
Cymatium dolarium
6
12.
Cellana sp.
1
13.
Lyria sp.
4
14.
Ovatella sp.
2
15.
Trochus sp.
9
Total
717

Tabel 4.1.2 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Besar
Suhu
34,6°C
DO
0,81
Salinitas
3 gr/100 Nacl
Kekeruhan
45 mg/C
pH
-
Intensitas Cahaya
337 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
2,23 m/s
Kelembaban
61,50%

Tabel 4.1.3. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Kecil
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Mitra litterata
2
2.
Fulgiconus exiguus bougei
3
3.
Planaxis sulcatus
45
4.
Nerita undata
74
5.
Caminella sp.
34
6.
Hexaplex sp
5
7.
Nerita planospira
75
8.
Astraea sp.
4
9.
Nertita sp 1
10
10.
Conusebraeus sp.
1
11.
Monodonta sp.
7
12.
Patella sp.
3
13.
Nerita sp 2
24
14.
Enigma sp.
5
15.
Patella barbara
2
Total
294

Tabel 4.1.4 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Kecil
Suhu
32,47°C
DO
6,81
Salinitas
4,7 gr/100 Nacl
Kekeruhan
12,67 mg/C
pH
-
Intensitas Cahaya
434 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
1,99


Tabel 4.1.5. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Alga
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Mitra litterata
15
2.
Fulgiconus exiguus bougei
2
3.
Planaxis sulcatus
21
4.
Nerita undata
25
5.
Hexaplex sp
12
6.
Nerita planospira
5
7.
Nertita sp 1
5
8.
Conusebraeus sp.
3
9.
Monodonta sp.
6
10.
Patella sp.
60
11.
Nerita sp 2
3
12.
Cypraea stercoraria
1
13.
Lyria sp. 1
2
Total
162

Tabel 4.1.6 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Alga
Suhu
39,1°C
DO
8,4
Salinitas
4,0 gr/100 Nacl
Kekeruhan
4 mg/C
pH
8,08
Intensitas Cahaya
303 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
2,93

Tabel 4.1.7. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Lempeng
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Fulgiconus exiguus bougei
2
2.
Nerita undata
160
3.
Caminella sp.
1
4.
Hexaplex sp
19
5.
Nerita planospira
215
6.
Astraea sp.
1
7.
Monodonta sp.
7
8.
Patella sp.
173
9.
Nerita sp 2
14
10.
Chlamys sp.
5
11.
Enigma sp.
22
12.
Meretrix sp.
1
13.
Ranella sp.
1
14.
Cymatium dolarium
14
15.
Strombus sp.
1
Total
641

Tabel 4.1.8 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Lempeng
Suhu
31°C
DO
23,7
Salinitas
4,0 gr/100 Nacl
Kekeruhan
9 mg/C
pH
8,39
Intensitas Cahaya
448 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
3,21

Tabel 4.1.9. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Berlamun
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Fulgiconus exiguus bougei
9
2.
Planaxis sulcatus
15
3.
Nerita undata
28
4.
Caminella sp.
2
5.
Hexaplex sp
15
6.
Nerita planospira
11
7.
Astraea sp.
2
8.
Patella sp.
13
9.
Enigma sp.
3
10.
Cypraea stercoraria
2
Total
100


Tabel 4.1.10 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Berlamun
Suhu
31,86°C
DO
6,83
Salinitas
4,67 gr/100 Nacl
Kekeruhan
12,67 mg/C
pH
12,87
Intensitas Cahaya
232 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
1,99

4.2 Analisis Data
Tabel 4.2. 1 Hasil Analisis H, E, R Zona Batu Besar
Kode Nomor
Spesies
Jumlah
pi=n/N
ln pi
pi * ln pi
E
R
3
Planaxis sulcatus
28
0,039
-3,24287
-0,1266393
0,645987
2,129253
4
Nerita undata
219
0,305
-1,186
-0,3622523


6
Hexaplex sp
30
0,042
-3,17388
-0,1327983


7
Nerita planospira
236
0,329
-1,11124
-0,3657651


9
Nertita sp 1
128
0,179
-1,72305
-0,3076009


10
Conusebraeus sp.
19
0,026
-3,63064
-0,0962093


14
Monodonta sp.
15
0,021
-3,86703
-0,0809001


15
Patella sp.
10
0,014
-4,27249
-0,0595884


19
Nerita sp 2
7
0,010
-4,62917
-0,0451941


20
Chlamys sp.
3
0,004
-5,47646
-0,0229141


26
Cymatium dolarium
6
0,008
-4,78332
-0,0400278


29
Cellana sp.
1
0,001
-6,57508
-0,0091703


34
Lyria sp. 1
4
0,006
-5,18878
-0,0289472


37
Ovatella sp.
2
0,003
-5,88193
-0,0164071


38
Trochus sp.
9
0,013
-4,37785
-0,0549521


Total
717


1,7493663



Tabel 4.2.2 Hasil Analisis H, E, R Zona Batu Kecil
Kode Nomor
Spesies
Jumlah
Pi
ln pi
pi * ln pi
E
R
1
Mitra litterata
2
0,006803
-4,99043
-0,0339485
0,745497
2,463236
2
Fulgiconus exiguus bougei
3
0,010204
-4,58497
-0,0467854


3
Planaxis sulcatus
45
0,153061
-1,87692
-0,2872833


4
Nerita undata
74
0,251701
-1,37951
-0,3472248


5
Caminella sp.
34
0,115646
-2,15722
-0,2494743


6
Hexaplex sp
5
0,017007
-4,07414
-0,0692881


7
Nerita planospira
75
0,255102
-1,36609
-0,3484928


8
Astraea sp.
4
0,013605
-4,29729
-0,0584665


9
Nertita sp 1
10
0,034014
-3,38099
-0,1149998


10
Conusebraeus sp.
1
0,003401
-5,68358
-0,0193319


14
Monodonta sp.
7
0,02381
-3,73767
-0,0889921


15
Patella sp.
3
0,010204
-4,58497
-0,0467854


19
Nerita sp 2
24
0,081633
-2,50553
-0,2045327


22
Enigma sp.
5
0,017007
-4,07414
-0,0692881


40

2
0,006803
-4,99043
-0,0339485


Total
294


2,0188423



Tabel 4.2.3 Hasil Analisis H, E, R Zona Batu Alga
No
Nama
Jumlah
Pi
ln pi
pi * ln pi
E
R
1
Mitra litterata
15
0,092593
-2,37955
-0,2203283
0,76273
2,555234
2
Fulgiconus exiguus bougei
2
0,012346
-4,39445
-0,0542525


3
Planaxis sulcatus
21
0,12963
-2,04307
-0,2648429


4
Nerita undata
25
0,154321
-1,86872
-0,2883828


6
Hexaplex sp
12
0,074074
-2,60269
-0,1927918


7
Nerita planospira
5
0,030864
-3,47816
-0,1073506


9
Nertita sp 1
5
0,030864
-3,47816
-0,1073506


10
Conusebraeus sp.
3
0,018519
-3,98898
-0,0738701


14
Monodonta sp.
6
0,037037
-3,29584
-0,122068


15
Patella sp.
60
0,37037
-0,99325
-0,367871


19
Nerita sp 2
3
0,018519
-3,98898
-0,0738701


33
Cypraea stercoraria
1
0,006173
-5,0876
-0,0314049


34
Lyria sp. 1
2
0,012346
-4,39445
-0,0542525


37
Ovatella sp.
2
0,012346
-4,39445
-0,0542525


Total
162


2,0128885



Tabel 4.2.5 Hasil Analisis H, E, R Zona Batu Lempeng
Nomor kode
Nama
Jumlah
Pi
ln pi
pi * ln pi
E
R
2
Fulgiconus exiguus bougei
2
0,00312
-5,76988
-0,0180028
0,593972
2,320893
4
Nerita undata
160
0,24961
-1,38786
-0,3464226


5
Caminella sp.
1
0,00156
-6,46303
-0,0100827


6
Hexaplex sp
19
0,029641
-3,51859
-0,1042952


7
Nerita planospira
215
0,335413
-1,09239
-0,3664027


8
Astraea sp.
1
0,00156
-6,46303
-0,0100827


14
Monodonta sp.
7
0,01092
-4,51712
-0,0493289


15
Patella sp.
173
0,269891
-1,30974
-0,3534862


19
Nerita sp 2
14
0,021841
-3,82397
-0,0835189


20
Chlamys sp.
5
0,0078
-4,85359
-0,0378595


22
Enigma sp.
22
0,034321
-3,37199
-0,1157312


23
Meretrix sp.
1
0,00156
-6,46303
-0,0100827


25
Ranella sp.
1
0,00156
-6,46303
-0,0100827


26
Cymatium dolarium
14
0,021841
-3,82397
-0,0835189


36
Strombus sp.
1
0,00156
-6,46303
-0,0100827


41
Neriknafulgurans
5
0,0078
-4,85359
-0,0378595


Total
641


1,6468401



Tabel 4.2.6 Ringkasan Indeks Keanekaragaman, Kemerataan, dan Kekayaan Setiap Zona
No
Zona
H’
E
R
1.
Batu Besar
1,749366303
0,645987398
2,129253006
2.
Batu Kecil
2,018842256
0,745496614
2,463236301
3.
Batu Alga
2,012889
0,76273
2,555234
4.
Batu Lempeng
1,64684
0,593972
2,320893
5.
Batu Lamun
1,990229
0,864345279
1,954325169




Pengambilan Mollusca di Pantai Pancur dilakukan pada 5 zona, yaitu zona batu besar, zona batu kecil, zona batu alga, zona batu lempeng, dan zona lamun. Pada zona batu besar ditemukan 15 spesies yaitu Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Nerita sp 2, Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp., Lyria sp., Ovatella sp., Trochus sp. Spesies yang mendominasi pada zona batu besar  adalah Nerita planospira sebanyak 236 spesies dengan nilai dominansi sebesar 32,64%.
            Pada zona batu kecil ditemukan 15 spesies yaitu Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Planaxis sulcatus, Nerita undata, Caminella sp., Hexaplex sp, Nerita planospira, Astraea sp., Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Nerita sp 2, Enigma sp., Patella barbara. Spesies yang mendominasi pada zona ini adalah Nerita planospira sebanyak 75 spesies dengan nilai dominasi sebesar 32,1%.
Pada zona batu alga ditemukan 13 spesies, diantaranya  Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Nerita sp 2, Cypraea stercoraria, Lyria sp.1. Spesies yang paling mendominasi pada zona ini adalah Patella sp. sebesar 60 dengan nilai dominansi sebesar 37,04%.
Pada zona batu lempeng ditemukan 15 spesies diantaranya Fulgiconus exiguus bougei, Nerita undata, Caminella sp., Hexaplex sp, Nerita planospira, Astraea sp., Monodonta sp., Patella sp., Nerita sp 2, Chlamys sp., Enigma sp., Meretrix sp., Ranella sp., Cymatium dolarium, Strombus sp. Spesies yang paling mendominasi pada zona ini adalah Nerita planospira sebanyak 215 dengan dominansi sebesar 33,54%.
Pada zona batu lamun ditemukan 10 spesies diantaranya Fulgiconus exiguus bougei, Planaxis sulcatus, Nerita undata, Caminella sp., Hexaplex sp, Nerita planospira, Astraea sp., Patella sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria. Spesies yang paling mendominasi pada zona ini adalah Nerita undata sebanyak 28 dengan dominansi sebesar 28%.
            Nilai keanekaragaman (H’) pada zona batu besar sebesar 1,749366303, pada zona batu kecil sebesar 2,018842256, zona alga sebesar 2,012889, zona lempeng sebesar 1,64684, sedangkan pada zona lamun sebesar 1,990229. Dan untuk nilai kemerataan (E), pada zona batu besar sebesar 0,645987398, pada zona batu kecil sebesar 0,745496614, zona alga sebesar 0,76273, zona lempeng sebesar 0,593972, sedangkan pada zona lamun sebesar 0,864345279.  Sedangkan untuk nilai kekayaan (R) pada zona batu besar sebesar 2,129253006, pada zona batu kecil sebesar 2,463236301, zona alga sebesar 2,555234, zona lempeng sebesar 2,320893, sedangkan pada zona lamun sebesar 1,954325169.
Dari hasil analisis menggunakan teknik analisis didapatkan Indeks Keanekaragaman Shannon dan Wiener (H’) terbesar untuk Mollusca adalah pada zona batu kecil sebesar 2,018842256, sedangkan nilai keanekaragaman terkecil adalah pada zona batu berlempeng sebesar 1,64684. Indeks kemerataan untuk mollusca terbesar pada zona batu lamun sebesar 0,864345279 dan nilai kemerataan terkecil pada zona batu lempeng sebesar 0,593972. Indeks kekayaan terbesar untuk mollusca adalah pada zona alga sebesar 2,555234, dan indeks kekayaan terkecil adalah pada zona lamun dengan nilai 1,954325169.
Nilai indeks keanekaragaman dari kelima zona termasuk dalam keanekaragaman jenis sedang karena masuk dalam kisaran 1 < H` < 3. Hasil indeks keseragaman untuk Mollusca pada semua zona memiliki keseragaman populasi tinggi karena e > 0,6 kecuali pada zona batu lempeng yang sedang. Untuk nilai indeks kekayaan yang didapat dari kelima zona termasuk kedalam kriteria sedikit kecuali pada batu alga yang tinggi karena berkisar 2,5-4,0.








BAB 5
PEMBAHASAN
5.1  Jenis Mollusca yang Ditemukan Pada Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi
Tabel  5.1.1 Spesies Mollusca Berdasarkan Macam-Macam Substrat
Spesies Zona Batu Besar
Spesies Zona  Batu Kecil
Spesies Zona  Batu Alga
Spesies Zona Batu Lempeng
Spesies Zona Batu Lamun
Planaxis sulcatus
Mitra litterata
Mitra litterata
Fulgiconus exiguus bougei
Fulgiconus exiguus bougei
Nerita undata
Fulgiconus exiguus bougei
Fulgiconus exiguus bougei
Nerita undata
Planaxis sulcatus
Hexaplex sp
Planaxis sulcatus
Planaxis sulcatus
Caminella sp.
Nerita undata
Nerita planospira
Nerita undata
Nerita undata
Hexaplex sp
Caminella sp.
Nertita sp 1
Caminella sp.
Hexaplex sp
Nerita planospira
Hexaplex sp
Conusebraeus sp.
Hexaplex sp
Nerita planospira
Astraea sp.
Nerita planospira
Monodonta sp.
Nerita planospira
Nertita sp 1
Monodonta sp.
Astraea sp.
Patella sp.
Astraea sp.
Conusebraeus sp.
Patella sp.
Patella sp.
Nerita sp 2
Nertita sp 1
Monodonta sp.
Nerita sp 2
Enigma sp.
Chlamys sp.
Conusebraeus sp.
Patella sp.
Chlamys sp.
Cypraea stercoraria
Cymatium dolarium
Monodonta sp.
Nerita sp 2
Enigma sp.
Fulgiconus exiguus bougei
Cellana sp.
Patella sp.
Cypraea stercoraria
Meretrix sp.

Lyria sp.
Nerita sp 2
Lyria sp. 1
Ranella sp.

Ovatella sp.
Enigma sp.

Cymatium dolarium

Trochus sp.
Patella barbara

Strombus sp.


5.2. Keanekaragaman
Berdasarkan hasil analisi data di atas menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis Mollusca yang terdapat di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi berbeda antara zona yang satu dengan yang lain. Keanekaragaman dipengaruhi oleh adanya kemerataan dan kekayaan. Indek keanekaragaman atau diversitas pada masing-masing zona yang tertinggi terdapat pada zona batu kecil dengan nilai sebesar 2,018842256 dan yang terendah terdapat pada zona batu lempeng dengan nilai sebesar 1,64684. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai keanekaragamannya (H’) semakin besar diversitas spesies dalam komunitas dan kemungkinan ada jumlah spesies yang besar.
Tingginya kenekaragaman jenis Mollusca pada zona batu kecil didukung oleh adanya kondisi lingkungan abiotik terukur seperti salinitas, pH, dan suhu yang relatif normal pada zona ini. Kondisi ini tentunya akan lebih cocok atau sesuai bagi kehidupan Mollusca yang ada di dalamnya.
Menurut Odum (1993) komunitas lingkungan yang mantap mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi daripada komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik oleh manusia dan alam. Hal ini menunjukkan bahwa zona batu kecil memiliki komunitas Mollusca yang lebih stabil dibanding zona yang lain.
5.3. Kemerataan
            Berdasarkan pada hasil analisis data tentang kemerataan Mollusca, nilai kemerataan tertinggi adalah 0,864345279 pada zona pasir berlamun. Tingginya nilai kemerataan pada zona tersebut menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dikatakan heterogen. Adanya perbedaan kemerataan antar semua zona berarti setiap jenis Mollusca yang ditemukan memiliki kesesuaian yang berbeda terhadap kondisi lingkungan yang ditempatinya. Seperti yang dijelaskan oleh Odum (1993) bahwa perbedaan kepadatan jenis Mollusca antar lokasi menggambarkan kesesuaian jenis Mollusca terhadap kondisi fisik, kimia pada masing-masing lokasi. Zona dengan kemerataan jenis tertinggi menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di setiap zona-zona tersebut merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan jenis Mollusca yang bersangkutan.
3.4 Kekayaan
            Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekayaan jenis Mollusca yang terdapat di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi berbeda antara satu dengan yang lain. Kekayaan merupakan bagian dari adanya keanekaragaman. Indek kekayaan pada masing-masing zona yang tertinggi terdapat pada zona batu alga dengan nilai sebesar 2,555234 kekayaan yang terendah terdapat pada zona batu lamun yaitu sebesar 1,954325169.
            Tingginya kekayaan jenis Mollusca pada zona batu alga didukung oleh adanya kondisi lingkungan abiotik terukur seperti salinitas, pH, dan suhu yang relatif normal pada zona ini. Kondisi ini tentunya akan lebih cocok atau sesuai bagi kehidupan Mollusca yang ada di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Nazlim (1999) bahwa kondisi lingkungan yang cocok atau tidak bagi kehidupan Mollusca akan terlihat dalam bentuk akhir yaitu mengenai kelimpahan organisme ini dalam hal kekayaan pada lokasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa zona batu alga memiliki komunitas Mollusca yang lebih stabil dibanding zona yang lain.
3.5. Pola Penyebaran
            Berdasarkan data dan analisis data pola penyebaran Molusca pada semua zona menunjukkan bahwa pola penyebarannya sebagian besar mengelompok, yaitu pada spesies Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp.. Hal ini menunjukkan bahwa individu-individu tersebut cenderung untuk berkelompok dengan yang lain dan mengimplikasikannya keheterogenan lingkungan.
Sedangkan yang pola penyebarannya merata dari semua zona yaitu pada spesies, Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Caminella sp., dan Nerita sp. Berarti hal ini menunjukkan bahwa individu berada secara teratur dalam ruang dan menunjukkan bahwa lingkungan tersebut heterogen (Odum, 1993). Adanya pola pengelompokkan ini secara keseluruhan disebabkan oleh faktor abiotik. Misalnya: faktor vektorial (angin, arus air, intensitas cahaya), faktor sosial (tingkah laku), dan faktor reproduksi (Odum, 1993). Sedangkan pola acak ditemukan pada beberapa spesies saja, yaitu Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp., Lyria sp., Ovatella sp., Trochus sp, Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria, Lyria sp. 1, Meretrix sp., Ranella sp., Cymatium dolarium, Strombus sp., Cypraea stercoraria dan Patella barbara. Hal ini mengimplikasikan homogenitasnya lingkungan dan adanya pola-pola tingkah laku yang non selektif (Odum, 1993).
3.6 Jenis spesies yang Dominan
            Dari semua zona yang ada spesies yang paling dominan adalah genus Nerita dan genus Patella. Menurut Odum (1993) komunitas lingkungan yang mantap mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi dari pada komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik oleh manusia dan alam. Hal ini menunjukkan bahwa pada spesies yang ternyata memiliki jumlah yang tinggi memiliki komunitas Mollusca yang lebih stabil dibanding spesies yang lain.
3.7. Pengaruh Faktor Lingkungan Abiotik Terukur
            Kondisi lingkungan (faktor abiotik) memegang peranan penting dalam laju pertumbuhan populasi yang nantinya akan mempengaruhi keanekaragaman, kemerataan dan kekayaan spesies dalam suatu komunitas tertentu. Pada daerah pasang surut ini, pasang surut air laut akan sangat berpengaruh terhadap populasi spesies itu. Dalam keadaan ekstrim saat surut, suatu organisme pada daerah garis pasang naik pasti sanggup menahan kekeringan dan perubahan temperatur, karena hanya sebentar saja tersiram atau tertutup air, sebaliknya pada kawasan bawah pasang surut (subtidal) organisme selalu tertutup air (Odum, 1993). Keadaan ini akan sangat berpengaruh pada kondisi lingkungan yang dialami oleh organisme tersebut, seperti perbedaan konsentrasi zat hara, suhu dan salinitas.





















BAB 6
PENUTUP
6.1  Kesimpulan
(1)   Jenis-jenis Mollusca yang ditemukan di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi ialah Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Caminella sp., Nerita sp. Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp., Lyria sp., Ovatella sp., Trochus sp, Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria, Lyria sp. 1, Meretrix sp., Ranella sp., Cymatium dolarium, Strombus sp., Cypraea stercoraria dan Patella barbara.
(2)   Nilai keanekaragaman (H’) pada zona batu besar sebesar 1,749366303, pada zona batu kecil sebesar 2,018842256, zona alga sebesar 2,012889, zona lempeng sebesar 1,64684, sedangkan pada zona lamun sebesar 1,990229. Dan untuk nilai kemerataan (E), pada zona batu besar sebesar 0,645987398, pada zona batu kecil sebesar 0,745496614, zona alga sebesar 0,76273, zona lempeng sebesar 0,593972, sedangkan pada zona lamun sebesar 0,864345279.  Sedangkan untuk nilai kekayaan (R) pada zona batu besar sebesar 2,129253006, pada zona batu kecil sebesar 2,463236301, zona alga sebesar 2,555234, zona lempeng sebesar 2,320893, sedangkan pada zona lamun sebesar 1,954325169.
(3)   Indeks Keanekaragaman Shannon dan Wiener (H’) terbesar untuk Mollusca adalah pada zona batu kecil sebesar 2,018842256, sedangkan nilai keanekaragaman terkecil adalah pada zona batu berlempeng sebesar 1,64684. Indeks kemerataan untuk mollusca terbesar pada zona batu lamun sebesar 0,864345279 dan nilai kemerataan terkecil pada zona batu lempeng sebesar 0,593972. Indeks kekayaan terbesar untuk mollusca adalah pada zona alga sebesar 2,555234, dan indeks kekayaan terkecil adalah pada zona lamun dengan nilai 1,954325169. Nilai indeks keanekaragaman dari kelima zona termasuk dalam keanekaragaman jenis sedang karena masuk dalam kisaran 1 < H` < 3. Hasil indeks keseragaman untuk Mollusca pada semua zona memiliki keseragaman populasi tinggi karena e > 0,6 kecuali pada zona batu lempeng yang sedang. Untuk nilai indeks kekayaan yang didapat dari kelima zona termasuk kedalam kriteria sedikit kecuali pada batu alga yang tinggi karena berkisar 2,5-4,0.
(4)   Pola penyebaran Molusca pada semua zona menunjukkan bahwa pola penyebarannya sebagian besar mengelompok, yaitu pada spesies Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp.. Sedangkan yang pola penyebarannya merata dari semua zona yaitu pada spesies, Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp, Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Caminella sp., dan Nerita sp. Sedangkan pola acak ditemukan pada beberapa spesies saja, yaitu Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp., Lyria sp., Ovatella sp., Trochus sp, Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Conusebraeus sp., Monodonta sp., Patella sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria, Lyria sp. 1, Meretrix sp., Ranella sp., Cymatium dolarium, Strombus sp., Cypraea stercoraria dan Patella barbara.
(5)   Dari semua zona yang ada spesies yang paling dominan adalah genus Nerita dan genus  Patella sp.

6.2 Saran
·       Penelitian mengenai keanekaragaman, kemerataan dan kekayaan Moluska di Pantai Pancur, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi lebih dikembangkan lagi karena wilayah ini berpotensi untuk pengembangan kekayaan laut khususnya untuk daerah Taman Nasional.
·       Sebelum pengambilan data perlengkapan serta alat yang dipergunakan harus disiapkan serta diperiksa fungsinya.
·       Dalam melakukan suatu identifikasi data, hendaknya dilakukan dengan lebih cermat agar diperoleh data yang benar-benar valid.
·       Jika data yang akan diproses merupakan data kompilasi, secepatnya kompilasi dilakukan agar tidak terjadi keterlambatan penyusunan laporan.
·       Dalam melakukan penelitian hendaklah dilakukan dengan sabar, teliti dan tekun dan dalam penelitian faktor eksternal agar selalu diperhatikan agar hasil penelitian lebih akurat.
·       Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, hendaknya didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar