Senin, 06 Februari 2017

ANALISIS KRITIS JURNAL

PADAT POPULASI DAN INTENSITAS SERANGAN HAMA
WALANG SANGIT (Leptocorisa Acuta Thunb.) PADA TANAMAN
PADI SAWAH DI KABUPATEN MINAHASA TENGGARA
(Population Density and Paddy Bug (Leptocorisa acuta thunb.) Infestation Intensity on Field Paddy Plants in the South-East Minahasa Regency )

Rivo Manopo 1, Christina L. Salaki 2, Juliet E.M Mamahit 2, Emmy Senewe 2
¹´² Program Studi Agroekoteknologi, Jurusan Hama & Penyakit Fakultas Pertanian,Universitas Sam Ratulangi, Jl. Kampus Unsrat Mando, 95515 Telp (0431) 846539
RESUME
Padi merupakan tanaman pangan terpenting di Indonesia, karena lebih dari setengah penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya pada beras yang dihasilkan dari tanaman padi. Sekitar 1,75 miliar dari sekitar tiga miliar penduduk Asia, termasuk 210 juta penduduk Indonesia menggantungkan kebutuhan kalorinya dari beras. Ketersediaan beras selalu menjadi prioritas pemerintah karena mnyangkut sumber pangan bagi semua lapisan masyarakat. Terganggunya ketersediaan beras, berdampak sangat luas terhadap hampir semua sektor. Diperkirakan pada tahun 2020, dibutuhkan beras sebesar 35,97 juta ton dengan asumsi konsumsi 137 kg/kapital.
Organisme penggangu tumbuhan (OPT) merupakan salah satu masalah penting dalam proses produksi pertanian seiring disebabkan oleh adanya serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit tanaman telah ada sejak manusia mulai mengolah lahan pertanian (Sembel, 1989). Adanya hama dan penyakit tersebut belum dapat dikendalikan secara optimal sehingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar baik berupa kehilangan hasil, penurunan mutu serta menurunkan pendapatan petani.
Dewasa ini telah diketahui lebih dari 70 spesies serangga hama yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman padi, tetapi hanya 20 spesies yang merupakan hama penting (De Datta, 1981). Di Indonesia walang sangit merupakan salah satu hama potensial yang pada waktu-waktu tertentu menjadi hama penting yang dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Diduga bahwa populasi 100.000 ekor per hektar dapat menurunkan hasil sampai 25%. Hasil penelitian menunjukkan populasi walang sangit 5 ekor per 9 rumpun padi akan menurunkan hasil 15%. Hubungan antara kepadatan populasi walang sangit dengan penurunan hasil menunjukkan bahwa serangan satu ekor walang sangit per malai dalam satu minggu dapat menurunkan hasil 27%.
Kualitas gabah (beras) sangat dipengaruhi serangan walang sangit. Diantaranya menyebabkan meningkatnya perubahan warna biji padi. Sehingga serangan walang sangit disamping secara langsung menurunkan hasil, secara tidak langsung juga sangat menurunkan kualitas gabah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui padat populasi dan intensitas serangan hama walang sangit L. acuta pada tanaman padi di Kecamatan Tombatu Utara, Tombatu Timur dan Kecamatan Pasan Kabupaten Minahasa Tenggara. Manfaat dari Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai padat populasi dan intensitas serangan hama walang sangit L. acuta pada beberapa tempat yang berbeda dan upaya pengendaliannya. Metode yang digunakan adalah purposive sampling atau sampling secara sengaja.

Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa hama walang sangit telah menyebar pada pertanaman padi di tiga Kecamatan. Populasi tertinggi di Kecamatan Tombatu Timur 33,9 ekor / 10 kali ayunan ganda kemudian di Kecamatan Pasan 24,1 ekor / 10 kali ayunan ganda dan terendah di Kecamatan Tombatu Utara 9,2 ekor / 10 kali ayunan ganda. Tingginya populasi walang sangit dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta kebiasaan petani dalam membudidayakan tanaman padi sawah. Intesitas serangan walang sangit pada tanaman padi sawah sudah cukup tinggi sehingga keberadaan hama ini sudah mengkhawatirkan.

ANALISIS
Dari jurnal di atas yang termasuk dalam metode survei adalah metode penentuan lokasi sampel yang akan diambil. Kemudian yang termasuk dalam metode eksperimen yakni melakukan eksperimen berupa pengamatan di 3 kecamatan yang berbeda.

PREDIKSI
Diperkirakan jika masalah hama walang sangit ini tidak ditangani dengan baik maka akan beresiko pada produksi beras dalam negeri. Karena skala kecil saja sudah mampu mengurangi panen padi hingga 50%. Kemudian untuk mengatasi hal ini diperlukan survei populasi dari walang sangit untuk mengetahui seberapa banyak keberadaannya di wilayah pertanian. Kemudian untuk mengatasi hama walang sangit ini juga dapat menerapkan beberapa metode yang tentu saja harus tanpa merusak alam seperti memanfaatkan predator alaminya yakni burung pemakan serangga. Dapat juga dengan memanfaatkan tanaman yang ada disekitar yang memiliki efek sebagai insektisida alami untuk mengantisipasi serangan hama walang sangit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar