PADAT POPULASI DAN INTENSITAS
SERANGAN HAMA
WALANG SANGIT (Leptocorisa Acuta Thunb.)
PADA TANAMAN
PADI SAWAH DI KABUPATEN MINAHASA
TENGGARA
(Population
Density and Paddy Bug (Leptocorisa acuta thunb.) Infestation Intensity
on Field Paddy Plants in the South-East Minahasa Regency )
Rivo Manopo
1, Christina L. Salaki 2, Juliet E.M Mamahit 2, Emmy Senewe 2
¹´² Program Studi
Agroekoteknologi, Jurusan Hama & Penyakit Fakultas Pertanian,Universitas
Sam Ratulangi, Jl. Kampus Unsrat Mando, 95515 Telp (0431) 846539
RESUME
Padi
merupakan tanaman pangan terpenting di Indonesia, karena lebih dari setengah
penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya pada beras yang dihasilkan dari
tanaman padi. Sekitar 1,75 miliar dari sekitar tiga miliar penduduk Asia,
termasuk 210 juta penduduk Indonesia menggantungkan kebutuhan kalorinya dari
beras. Ketersediaan beras selalu menjadi prioritas pemerintah karena mnyangkut
sumber pangan bagi semua lapisan masyarakat. Terganggunya ketersediaan beras,
berdampak sangat luas terhadap hampir semua sektor. Diperkirakan pada tahun
2020, dibutuhkan beras sebesar 35,97 juta ton dengan asumsi konsumsi 137
kg/kapital.
Organisme
penggangu tumbuhan (OPT) merupakan salah satu masalah penting dalam proses
produksi pertanian seiring disebabkan oleh adanya serangan hama dan penyakit.
Hama dan penyakit tanaman telah ada sejak manusia mulai mengolah lahan
pertanian (Sembel, 1989). Adanya hama dan penyakit tersebut belum dapat
dikendalikan secara optimal sehingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar baik
berupa kehilangan hasil, penurunan mutu serta menurunkan pendapatan petani.
Dewasa
ini telah diketahui lebih dari 70 spesies serangga hama yang dapat menimbulkan
kerusakan pada tanaman padi, tetapi hanya 20 spesies yang merupakan hama
penting (De Datta, 1981). Di Indonesia walang sangit merupakan salah satu hama
potensial yang pada waktu-waktu tertentu menjadi hama penting yang dapat
menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Diduga bahwa populasi 100.000 ekor
per hektar dapat menurunkan hasil sampai 25%. Hasil penelitian menunjukkan
populasi walang sangit 5 ekor per 9 rumpun padi akan menurunkan hasil 15%.
Hubungan antara kepadatan populasi walang sangit dengan penurunan hasil
menunjukkan bahwa serangan satu ekor walang sangit per malai dalam satu minggu
dapat menurunkan hasil 27%.
Kualitas
gabah (beras) sangat dipengaruhi serangan walang sangit. Diantaranya
menyebabkan meningkatnya perubahan warna biji padi. Sehingga serangan walang
sangit disamping secara langsung menurunkan hasil, secara tidak langsung juga
sangat menurunkan kualitas gabah.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui padat populasi dan intensitas serangan hama
walang sangit L. acuta pada tanaman padi di Kecamatan Tombatu Utara,
Tombatu Timur dan Kecamatan Pasan Kabupaten Minahasa Tenggara. Manfaat dari
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai padat populasi
dan intensitas serangan hama walang sangit L. acuta pada beberapa tempat
yang berbeda dan upaya pengendaliannya. Metode yang digunakan adalah purposive
sampling atau sampling secara sengaja.
Hasil
yang diperoleh menunjukan bahwa hama walang sangit telah menyebar pada
pertanaman padi di tiga Kecamatan. Populasi tertinggi di Kecamatan Tombatu
Timur 33,9 ekor / 10 kali ayunan ganda kemudian di Kecamatan Pasan 24,1 ekor /
10 kali ayunan ganda dan terendah di Kecamatan Tombatu Utara 9,2 ekor / 10 kali
ayunan ganda. Tingginya populasi walang sangit dipengaruhi oleh faktor
lingkungan serta kebiasaan petani dalam membudidayakan tanaman padi sawah.
Intesitas serangan walang sangit pada tanaman padi sawah sudah cukup tinggi
sehingga keberadaan hama ini sudah mengkhawatirkan.
ANALISIS
Dari jurnal di
atas yang termasuk dalam metode survei adalah metode penentuan lokasi sampel
yang akan diambil. Kemudian yang termasuk dalam metode eksperimen yakni
melakukan eksperimen berupa pengamatan di 3 kecamatan yang berbeda.
PREDIKSI
Diperkirakan jika
masalah hama walang sangit ini tidak ditangani dengan baik maka akan beresiko
pada produksi beras dalam negeri. Karena skala kecil saja sudah mampu
mengurangi panen padi hingga 50%. Kemudian untuk mengatasi hal ini diperlukan
survei populasi dari walang sangit untuk mengetahui seberapa banyak
keberadaannya di wilayah pertanian. Kemudian untuk mengatasi hama walang sangit
ini juga dapat menerapkan beberapa metode yang tentu saja harus tanpa merusak
alam seperti memanfaatkan predator alaminya yakni burung pemakan serangga.
Dapat juga dengan memanfaatkan tanaman yang ada disekitar yang memiliki efek
sebagai insektisida alami untuk mengantisipasi serangan hama walang sangit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar